Buku ini seperti sambal. Pedas tapi bikin ketagihan. Catatan yang membuka mata tentang kenyataan Indonesia dari pinggiran. Sebuah buku yang mampu menangkap denyut kehidupan orang biasa yang mengisi wajah Indonesia – Andy F.Noya, Host kick Andy -
Salah satu dari beberapa kalimat yang dilontarkan oleh para pembaca buku Meraba Indonesia dan ikut menghiasi cover serta halaman pertama buku tersebut. Memang sepantasnya dikatakan bahwa buku Meraba Indonesia ini seperti ‘sambal’ karena di dalamnya kita dapat menemukan kenyataan pedas, pedih, getir mengenai Indonesia–Nusantara yang berada di pulau-pulau terdepan bangsa kita yang masih jauh dari gapaian tangan pemerintah, rangkulan media massa, dan sentuhan tangan masyarakat Indonesia lainnya. Mereka masih hidup miskin, apa adanya, dan serba kekurangan.
Dengan buku Meraba Indonesia, penulis ingin menyampaikan melalui catatan-catatan perjalanan sehari-harinya selama hampir satu tahun mengarungi luasnya Indonesia-Nusantara yang mereka sebut Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa kepada kita bagaimana keadaan saudara-saudara kita yang tinggal di barisan pulau terdepan (yang masih sering dikatakan daerah pinggiran/pulau terluar) padahal mereka adalah bangsa Indonesia juga sama seperti kita. Namun, apa yang mereka dapatkan sekarang masih jauh dari harapan, dan mereka seringkaliterlupakan serta terabaikan.
Diskusi yang berlangsung di Newseum, Veteran, Jakarta ini cukup banyak diminati oleh berbagai kalangan diantaranya penulis, jurnalis, budayawan, wartawan, arsitek, mahasiswa, komunitas film dokumenter, komunitas pelestarian budaya dan sebagainya. Acara ini masih ramai hingga malam tiba pukul 10.00 WIB, banyak pertanyaan yang muncul dan dijawab dengan gamblang disertai canda tawa sehingga tidak terasa jenuh dan membosankan.
Kehadiran Ahmad Yunus dan Farid Gaban memberikan inspirasi bagi kaum muda lainnya lewat pandangan, sikap, dan kata-kata mereka yang dilontarkan apa adanya. Hadir pula budayawan dan peneliti Urbanus Antara Institute yakni Taufik Rahzen yang pada saat diskusi tersebut memberi pandangan, masukan, saran dan kritik beliau kepada penulis terhadap buku Meraba Indonesia dan Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa itu sendiri. Beliau mengakui bahwa sang Ahmad Yunus dan Farid Gaban telah melakukan terobosan baru di bidang jurnalistik/media massa yang pada waktu-waktu sebelumnya selalu menyajikan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat bukannya memperlihatkan kenyataan sebenarnya.
Sebelum acara diskusi dimulai, kami disuguhkan pemutaran film Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa yang memperlihatkan perjalanan penulis dari satu pulau ke pulau lainnya, berdurasi kurang lebih setengah jam, namun sudah cukup membuat kami miris dan tersadar dari lamunan bahwa ternyata Indonesia-Nusantara tidak hanya kaya akan sumber daya alam, wisata, flora fauna, adat istiadat, keragaman ras, suku, bahasa, dan budayanya.
Namun ironisnya, bahwa apa yang tersaji di film tersebut yakni perusakan sumber daya alam, kelangkaan flora fauna, semakin sedikitnya penduduk, ras, suku lokal/daerah yang masih mempertahankan adat, budaya dan bahasa daerah. Daerah-daerah potensi wisata juga semakin tercemar dan tidak terawat. Indonesia sebagai jantung terumbu karang dunia juga tidak mampu melestarikannya, banyak kecantikan alam yang sudah ternoda oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Masyarakat daerah pesisir masih hidup susah, penduduk daerah tidak mendapat fasilitas pendidikan dan kesehatan yang layak. Masih banyak lagi kekayaan Indonesia sekaliguskenyataan menyedihkan Indonesia lainnya yang tidak akan mungkin dapat dijabarkan dalam satu film bahkan seumur hidup kita.
Selama hampir setahun, dua wartawan kawakan, Farid Gaban dan Ahmad Yunus, mengelilingi Indonesia. Dengan mengendarai sepeda motor win 100 cc bekas yang dinodifikasi, mereka mengunjungi pulau-pulau terdepan dan daerah-daerah bersejarah di Nusantara. Dari Sabang sampai Merauke, Dari Miangas hingga Pulau Rote.Ratusan orang telah mereka wawancarai, ratusan tempat telah mereka singgahi. Menghasilkan 70 jam video perjalanan, 10.000 frame foto dan setumpuk catatan perjalanan.
Tujuan utama ekspedisi ini adalah mengagumi dan menyelami Indonesia sebagai negri bahari. Di atas semua itu, mencatat keseharian masyarakat yang mereka temui. Mencatat dari dekat. Bagi penulis, perjalanan ini adalah bagian dari upayanya untuk menjawab pertanyaan pribadinya tentang Indonesia. Seperti kata pepatah “Tak kenal maka Tak sayang” demikianlah yang dilakukan penulis untuk lebih mendekatkan dirinya kepada bangsa dan negara yang telah membesarkan dia. Mengenal lebih dekat, lebih rekat, mencintai Indonesia apa adanya.
Dengan adanya buku Meraba Indonesia ini pun diharapkan akan memperbaiki citra jurnalistik Indonesia yang selama ini lebih mengedepankan berita dan informasi yang berbau komersial, politik, dan entertainment semata agar nantinya dapat menjadi media/wadah yang merangkul, menampung, dan memprioritaskan aspirasi masyarakat hingga pelosok dan pulau-pulau terkecil, sehingga dapat lebih memperlihatkan kenyataan dan menjawab permasalahan yang ada di tengah-tengah masyarakat dan seluruh sumber daya alam Indonesia.
/Peluncuran perdana dan diskusi buku Meraba Indonesia, pemutaran film Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa, 27 Juli 2011, Newseum Veteran Jakarta
Sumber: http://urbanus.co.id/?p=112







