Selasa, 16 Agustus 2011

‘MERABA INDONESIA’…… ekspedisi “gila” keliling Nusantara


Buku ini seperti sambal. Pedas tapi bikin ketagihan. 
Catatan yang membuka mata tentang kenyataan Indonesia dari pinggiran. 
Sebuah buku yang mampu menangkap denyut kehidupan orang biasa yang mengisi wajah Indonesia 
– Andy F.Noya, Host kick Andy -

  
Salah satu dari beberapa kalimat yang dilontarkan oleh para pembaca buku Meraba Indonesia dan ikut menghiasi cover serta halaman pertama buku tersebut. Memang sepantasnya dikatakan bahwa buku Meraba Indonesia ini seperti ‘sambal’ karena di dalamnya kita dapat menemukan kenyataan pedas, pedih, getir mengenai Indonesia–Nusantara yang berada di pulau-pulau terdepan bangsa kita yang masih jauh dari gapaian tangan pemerintah, rangkulan media massa, dan sentuhan tangan masyarakat Indonesia lainnya. Mereka masih hidup miskin, apa adanya, dan serba kekurangan.
Dengan buku Meraba Indonesia, penulis ingin menyampaikan melalui catatan-catatan perjalanan sehari-harinya selama hampir satu tahun mengarungi luasnya Indonesia-Nusantara yang mereka sebut Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa kepada kita bagaimana keadaan saudara-saudara kita yang tinggal di barisan pulau terdepan (yang masih sering dikatakan daerah pinggiran/pulau terluar) padahal mereka adalah bangsa Indonesia juga sama seperti kita. Namun, apa yang mereka dapatkan sekarang masih jauh dari harapan, dan mereka seringkaliterlupakan serta terabaikan.
Diskusi yang berlangsung di Newseum, Veteran, Jakarta ini cukup banyak diminati oleh berbagai kalangan diantaranya penulis, jurnalis, budayawan, wartawan, arsitek, mahasiswa, komunitas film dokumenter, komunitas pelestarian budaya dan sebagainya. Acara ini masih ramai hingga malam tiba pukul 10.00 WIB, banyak pertanyaan yang muncul dan dijawab dengan gamblang disertai canda tawa sehingga tidak terasa jenuh dan membosankan.
 
Kehadiran Ahmad Yunus dan Farid Gaban memberikan inspirasi bagi kaum muda lainnya lewat pandangan, sikap, dan kata-kata mereka yang dilontarkan apa adanya. Hadir pula budayawan dan peneliti Urbanus Antara Institute yakni Taufik Rahzen yang pada saat diskusi tersebut memberi pandangan, masukan, saran dan kritik beliau kepada penulis terhadap buku Meraba Indonesia dan Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa itu sendiri. Beliau mengakui bahwa sang Ahmad Yunus dan Farid Gaban telah melakukan terobosan baru di bidang jurnalistik/media massa yang pada waktu-waktu sebelumnya selalu menyajikan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat bukannya memperlihatkan kenyataan sebenarnya.
Sebelum acara diskusi dimulai, kami disuguhkan pemutaran film Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa yang memperlihatkan perjalanan penulis dari satu pulau ke pulau lainnya, berdurasi kurang lebih setengah jam, namun sudah cukup membuat kami miris dan tersadar dari lamunan bahwa ternyata Indonesia-Nusantara tidak hanya kaya akan sumber daya alam, wisata, flora fauna, adat istiadat, keragaman ras, suku, bahasa, dan budayanya.
   
Namun ironisnya, bahwa apa yang tersaji di film tersebut yakni perusakan sumber daya alam, kelangkaan flora fauna, semakin sedikitnya penduduk, ras, suku lokal/daerah yang masih mempertahankan adat, budaya dan bahasa daerah. Daerah-daerah potensi wisata juga semakin tercemar dan tidak terawat. Indonesia sebagai jantung terumbu karang dunia juga tidak mampu melestarikannya, banyak kecantikan alam yang sudah ternoda oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Masyarakat daerah pesisir masih hidup susah, penduduk daerah tidak mendapat fasilitas pendidikan dan kesehatan yang layak. Masih banyak lagi kekayaan Indonesia sekaliguskenyataan menyedihkan Indonesia lainnya yang tidak akan mungkin dapat dijabarkan dalam satu film bahkan seumur hidup kita.
Selama hampir setahun, dua wartawan kawakan, Farid Gaban dan Ahmad Yunus, mengelilingi Indonesia. Dengan mengendarai sepeda motor win 100 cc bekas yang dinodifikasi, mereka mengunjungi pulau-pulau terdepan dan daerah-daerah bersejarah di Nusantara. Dari Sabang sampai Merauke, Dari Miangas hingga Pulau Rote.Ratusan orang telah mereka wawancarai, ratusan tempat telah mereka singgahi. Menghasilkan 70 jam video perjalanan, 10.000 frame foto dan setumpuk catatan perjalanan.
Tujuan utama ekspedisi ini adalah mengagumi dan menyelami Indonesia sebagai negri bahari. Di atas semua itu, mencatat keseharian masyarakat yang mereka temui. Mencatat dari dekat. Bagi penulis, perjalanan ini adalah bagian dari upayanya untuk menjawab pertanyaan pribadinya tentang Indonesia. Seperti kata pepatah “Tak kenal maka Tak sayang” demikianlah yang dilakukan penulis untuk lebih mendekatkan dirinya kepada bangsa dan negara yang telah membesarkan dia. Mengenal lebih dekat, lebih rekat, mencintai Indonesia apa adanya.
Dengan adanya buku Meraba Indonesia ini pun diharapkan akan memperbaiki citra jurnalistik Indonesia yang selama ini lebih mengedepankan berita dan informasi yang berbau komersial, politik, dan entertainment semata agar nantinya dapat menjadi media/wadah yang merangkul, menampung, dan memprioritaskan aspirasi masyarakat hingga pelosok dan pulau-pulau terkecil, sehingga dapat lebih memperlihatkan kenyataan dan menjawab permasalahan yang ada di tengah-tengah masyarakat dan seluruh sumber daya alam Indonesia.

/Peluncuran perdana dan diskusi buku Meraba Indonesia, pemutaran film Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa, 27 Juli 2011, Newseum Veteran Jakarta

Meraba Indonesia

“Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat” (Soe Hok Gie)

Ini adalah tulisan yang panjang. Entah review atau bukan, yang pasti banyak catatan penting yang harus saya tuliskan. Dan saya memerlukan waktu beberapa hari untuk menulis. Karena saya tidak mau ada yang tertinggal.

Tak tau mengapa, ketika ada undangan pemutaran film “Meraba Indonesia” di Galeri Antara, saya begitu tergerak untuk datang. Jarak yang tidak dekat, dari kantor di bilangan Duren Sawit menuju Pasar Baru tidak menghalangi rasa penasaran saya. Alhasil, meskipun sedikit telat, saya berhasil mengikuti acara sampai dengan selesai diskusi dari oknum aktor di film ini.

Menonton filmnya, intinya cuma satu, this is “The Indonesia Motorcycle’s Diary”. Hehehe.. Dan membaca bukunya, kalian akan berpikir akan sisi lain Indonesia. Tapi realita. Bisa lebih membuka pikiran bahwa Indonesia itu bukan Jakarta. Dan menjadikan berita yang disajikan di televisi bisa tidak berarti dalam kehidupan masayarakat Pulau Sebatik atau suku Banggai. Dan kadang media tidak memberikan kontribusi apa-apa bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Bahkan bisa memperkeruh suasana. Seperti yang terjadi pada konflik Poso dan Ambon.

Bagi saya, tulisan Yunus seperti Lupus. Kok begitu? Ya karena menggelitik. Seperti membaca Pram. Cukup banyak sejarah yang dicatatnya. Juga bagaikan ensiklopedia kecil keanekaragaman hayati Indonesia. Dan pasti keadaan sesungguhnya Indonesia yang bisa membuat seorang saya berpikir lebih terbuka mengapa mereka di perbatasan lebih memilih merdeka. Atau mungkin sependapat dengan penulis untuk berhenti di satu titik timur Indonesia. Di usia senja mungkin.

Ya. Ahmad Yunus, seorang jurnalis lepas, bersama Farid Gaban, yang lebih senior telah melakukan ekspedisi keliling Indonesia selama 10 bulan. Dari Sabang sampai Merauke. Naik motor.. ngeng ngeng..

Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Ekspedisi 80 pulau, 10.000 frame foto, dan 70 jam video. Mereka mengakui (bahkan saya) “Dari Sabang Sampai Merauke” bahwa adalah hanya sebatas salah satu lagu wajib. Tapi mungkin kalian lebih memilih dan mengidamkan untuk keluar negeri. Singapura dan Malaysia misalnya. Orang gengsi kalau belum bernah keluar negeri. Bah! Kalian salah. Orang yang pernah keliling Indonesia uangnya lebih banyak dibanding yang pernah ke dua negara tetangga itu. Untuk bisa keliling Indonesia timur saja memerlukan biaya yang sama ketika kamu berkeliling Eropa. Plus keuntungan tidak diperlukan mengurus visa. Pada bagian Hikayat Dari Jalanan: Indonesia dijelaskan luas kepulauan Nusantara ini membentang sejauh 4.000 mil dari Sabang sampai Merauke, 1.300 mil dari Miangas sampai Pulau Rote. Dan luas itu sama dengan ujung barat Eropa sampai Asia Tengah. Mangap ga tuh mulut lo? Gue aja sampe tahan napas.

Ketika duo jurnalis ini memutuskan menulis tentang pengalaman mereka di Selat Malaka, pun begitu dengan saya. Dan ini penting. Saat membaca tulisan ini, saya jadi marah sendiri. Mungkin juga dengan kalian.
Dalam perjalanan di atas kapal pengangkut sayur dan buah, dari Dumai menuju Batam, mengalami empat kali patroli. Pertama dari marinir. Umur sekitar 25 tetapi sok 45. Setor tiga lembar 50 ribuan + tambahan satu lembar lagi. Tidak butuh waktu lama, dipatroli lagi oleh angkatan laut. Setor 150 ribu. Ketika pelabuhan Singapura terlihat, setor 200 ribu untuk kapal polisi laut. Sampai di pelabuhan Batam, setor lagi 150 ribu buat boat polisi laut. Kalau diabaikan? Ya babak belur. Teman, itulah perompak dari Selat Malaka. Perompak yang saya kira adalah penduduk pengangguran yang tidak berpendidikan. Tetapi ternyata saya salah. Mereka berseragam, yang seharusnya menjaga kapal-kapal sayur, buah, dan ikan nelayan. Kayaknya burung garuda ga pernah makan anaknya sendiri deh. Indonesia.

Membaca buku ini wajib hukumnya membuka peta Indonesia. Untuk melihat dimana letak tempat yang disebutkan, apa yang ada dan terjadi di sana. Konflik sosial, budaya, dan tentu saja politik. Terlebih ketika berada di Pulau Sebatik. Jangan sekali-kali berbicara nasionalisme dengan masyarakat Sebatik. Ketika nasionalisme di Jakarta mengelu-elukan “Ganyang Malaysia” sehingga mulut penuh buih liur, abstrak, tetapi “Di sini tidak ada perang. Saya tidak takut” begitu kata Samir, seorang nelayan Sebatik. Bagi mereka yang terpenting adalah bagaimana mereka dapat bertahan hidup. Walau lebih memlilih pergi ke Tawau (Karisidenanan Malaysia) ketimbang harus ke Tarakan atau Nunukan karena memerlukan waktu dan dana tiga kali lipat, tetapi mereka masih setia dengan menjadi warga negara Indonesia. Kurang nasionalisme apa cui? Saya paham, mengapa muncul GAM atau OPM.

Kalian tau Pulau Miangas? Hayoo..buka petanya duluuu..:) saya bantu dengan jargon. “Dari Sabang sampai Merauke. Dari Miangas sampai Pulau Rote” atau “Kami selalu dengan kalian di sana. Karena itu, teguhlah dalam mejaga kedaulatan NKRI.” Begitu modal kampanye 2009 lalu. Tetapi sampai detik ini beliau tidak pernah datang. Pulau ini menjadi obyek penderita isu datangnya teroris dari Filipina. Ya, buat saya sih wajib hukumnya ada pemeriksaan yang mungkin lebih ketat di wilayah perbatasan. Tapi ga usah lebay. Ga usah sok menjaga kedaulatan. Tapi warganya tidak menikmati listrik. Miskin. Hanya modal stereotip yang berjenggot, asal tuduh teroris. Ditangkap. Setelah disodorin kartu pers baru nyaho. Kalo gue jadi warga Miangas mah gue beli bendera Filipina trus gue tancepin aje tuh di depan rumah atau alun-alun kota (kalau ada). Pemerintah hanya memberikan jargon tetapi menuntut warga perbatasan mencintai Indonesia.

Masih ingin membaca tulisan saya? Kalau tidak, ya silakan berhenti. Kalau masih, mungkin kalian bisa nyalakan rokok.

Di awal cerita Yunus tentang Flores. Saya melihat toleransi kecil tentang pengalaman pribadi penulis ketika bertugas di Flores Pos. Saya setuju ketika ia menulis; Saya semakin mengerti bagaimana seharusnya kita meletakkan agama dalam kehidupan. Karena itu Pancasila lahir di sini. Tetapi di balik kehidupan harmonis umat beragama di pulau yang memang Katholik itu, ternyata ada sejarah kelam yang tidak pernah tercatat. Adalah Leonardo Lidi, pencipta lagu “Wohe Hoer” (Ratapan). 1965, ia masih 17 tahun. Tetapi sudah melihat 33 orang dikumpulkan di lapangan sepakbola. Tangan diikat lalu kepala dipenggal sekali seperti ayam oleh algojo yang ditunjuk dan dilatih membantai oleh tentara. Tidak ada alasan jelas. Hanya karena wacana petani adalah PKI, mereka mati. Atau beragama Katholik, karena sempat merebak PKI adalah Partai Katholik Indonesia. Dan ketika ada algojo yang menangis, atau korbannya lepas, algojo tersebut akan menjadi gantinya. Plus empat saudaranya. Lalu mayat-mayat tanpa dosa tersebut dibuang ke laut atau dimasukan dalam satu lubang. Dan kejadian bengis itu tidak hanya terjadi di kampung perempuan 67 tahun tersebut, genosida yang mengatasnamakan PKI itu cepat menyebar ke kampug-kampung lain. Dan angkanya mencapai 2000 korban jiwa. 1965 juga ada 12.000 orang dibuang ke Pulau Buru tanpa pengadilan. Tidak tau apa alasannya. “Saya minta jangan terulang lagi kasus 1965 itu di negara tercinta Indonesia. Mungkin sampai akhirat pertanyaan ini selalu ada. Ini rahasia negara atau pelanggaran HAM?”, kata Bapak A, seoarang algojo yang harus mengikat kakaknya sendiri. Dan kalian tau, hanya Gus Dur, presiden Indonesia yang meminta maaf atas peristiwa ini.

Sejarah kelam di Maumere ini mengingatkan penulis dan kita semua ketika belanda mengasingkan Bung Karno ke Ende. Sekitar tahun 1933. Di dalam keterasingan, di bawah pohon sukun, beliau duduk mengahadap ke laut. Membayangkan kenanekaragaman suku, ras, agama, dan budaya. Bung Karno banyak beriskusi dengan pastor-pastor Belanda maupun Jerman. Dan lahirlah Pancasila. Tetapi di kampong halaman Pancasila ini pernah terjadi peristiwa yang tidak berketuhanan, berkemanusiaan, dan berkeadilan. Mungkin hanya sepenggal lirih suara Leonardo Lidi melantunkan lagunya:
Kepada siapa kami mengadu
Hanya ada satu jalan, kepada pastor dan kepada Tuhan.

Meraba Indonesia, membukakan mata dan hati siapa saja yang menonton film dan membaca bukunya. Banyak ironi. Kekayaan alam Indonesia ini hanya dinikmati para penguasa. Bagaimana bebasnya mereka mengubah hutan menjadi perkebunan kelapa sawit hanya untuk tebalnya kantong semata. Mereka tidak berpikir bahwa kerusakan ekosistem Kepulauan Mentawai bahkan sungai Kapuas bias digunakan bermain sepakbola dikala musim kemarau. So, saya tidak bangga dengan kelapa sawit. Kalian juga dapat meraba sistem transportasi laut khususnya Indonesia timur. Atau masyarakat adat yang semakin terpinggirkan.

“Jika negara tidak mengakui masyarakat adat, jangan heran bila ada masyarakat yang tidak mengakui keberadaan negara.”

Meraba Indonesia dengan Sepeda Motor


Banyak cara menyelami Indonesia lebih jauh.., lebih dalam. Ada yang berjalan kaki menyusuri pelosok, mendaki gunung, keliling naik sepeda, berlayar dan lainnya. Semua sah-sah saja. Dan kini giliran Ahmad Yunus mengelilingi Nusantara dengan sepeda motor. Kisah perjalanannya dirangkum dalam buku bertajuk Meraba Indonesia. Banyak kejutan yang ditemui di sejumlah pulau yang disambanginya. Kejutan apa saja? 

Ketika kali pertama melihat sampul muka buku Meraba Indonesia, terus terang saya terusik judulnya. Pemakaian kata meraba, seolah penulisnya baru sampai tahap meraba-raba. Masih dalam tataran permukaan atau kulitnya, belum isinya.

Seakan belum sampai ke tahap menggelitik, mencubit apalagi menampar Indonesia, dalam artian memasuki lebih dalam lagi kondisi daerah-daerah yang disinggahinya.

Atau bisa jadi, penulisnya ingin menyembunyikan realitas Indonesia yang dilihatnya, bahwa sebenarnya ada banyak permasalahan begitu besar, komplek, dan sangat parah yang menggunung es, namun didiamkan atau sengaja didiamkan oleh masyarakat dan pemerintah.

Namun setelah mendengar cerita singkat Ahmad Yunus saat peluncuran buku ini di Jakarta, Rabu (27/7/2011), sebenarnya dia sudah berusaha mengenal Indonesia lebih dekat terutama daerah-daerah yang dikunjunginya meskipun terbilang singkat.

Penggunaan sepeda motor, jelas sangat membantunya memangkas waktu perjalanan dibanding kalau dia melakukannya dengan berjalan kaki ataupun dengan sepeda kayuh biasa.

Perjalanan yang dilakukannya sejak 5 Juni 2009 sampai Juni 2010 dengan rekannya bernama Farid Gaban ini bukan sekadar mendokumentasikan pulau-pulau yang sudah dipilihnya. Melainkan pula merenangi (belum menyelami) kehidupan masyarakatnya, ekonomi, sosial, sejarah, dan lainnya.

Dia tegaskan bahwa ini merupakan perjalanan jurnalistik karena bersifat interaktif. Maksudnya, dalam berbagai kesempatan dia selalu menginformasikan hasil perjalanannya lewat facebook, website, dan milist.

Dia berusaha lebur dengan masyarakat sebisa mungkin untuk mendapatkan gambaran utuh, meski mungkin belum semua tergambarkan secara rinci, mengingat keterbatasan waktu.

Pemilihan sepeda motor Honda Win bermesin 100 cc bukan tanpa sebab. Kendati motor ini kalau balapan dengan motor bebek sekarang, dipastikan kalah. Namun disisi lain terutama kebandelan mesin dan keiritan pemakaian bahan bakarnya justru dinilainya lebih unggul. Cukup dengan 1 liter bensin, motor setianya ini mampu menempuh jarak 25 Km.

Saat dia berangkat dari Tugu Monas, Jakarta tak ada perayaan pelepasan sebagaimana ekspedisi besar lainnya. Dia dan Farid Gaban dan rekan-rekannya hanya putar-putar dengan sepeda motor dan sempat melewati Istana Presiden. Baru kemudian melaju menuju Merak, menyeberang ke daratan Sumatera, mulai dari Lampung dan seterusnya hingga ujung Aceh.

Tak banyak perlengkapan yang dibawa. Hanya laptop, kamera, kamera video, pakaian, peralatan masak, tenda, dan sleeping bag.

Tak sedikit hambatan yang ditemui. Misalnya ketika hendak ke pedalamam Mentawai, sampan atau perahu kayu yang ditumpanginya terbalik. Laptop dan kameranya pun tercebur, rusak, dan batal ke pedalaman Mentawai.

Tak ada pilihan, dia pun kembali ke Padang. Kemudian timnya yang di Jakarta terbang ke Padang membawa peralatan baru. Baru kemudian dia meneruskan perjalanan ke Nias, Sabang hingga berakhir di Natuna, Kepri.

Total perjalanannya di Pulau Sumatera saja sekitar 2 bulan. Kemudian disambung ke Kalimantan, kawasan Indonesia Timur dan berakhir di Pulau Jawa dengan finishdi Jakarta.

Rp 15.000 Per Liter
Banyak kejutan yang didapatnya selama perjalanan. Di Pulau Enggano, pulau terluar Indonesia yang terletak di Barat Bengkulu, dia amat terkejut dengan harga BBM bensin sampai Rp 15.000 per liter.

Harga fantastis itu disebabkan begitu terisolir daerahnya. Dia catat, kalau infrastruktur di pulau itu masih jauh dari kata memadai. Akses menuju ke sana sangat sulit dan tergantung faktor alam. Kalau lagi cuaca buruk, jangan harap kapal-kapal mau menyeberang ke sana.

Di Mentawai, meski aksesnya tak terlalu sulit dibanding ke Enggano, dia menemukan keunikan tersendiri. Masyarakatnya punya kekhasan seni budayanya termasuk ekosistem, dan flora-faunanya.

Untuk melakukan perjalanan panjang dan melelahkan ini, jelas bukan cuma menguras waktu, pikiran, dan tenaga pun dana. Untunglah proposal buku ini yang dibuat Farid Gaban kemudian ditawarkan ke berbagai intansi mendapat sambutan. Dan akhirnya proposal buku itu dibeli oleh Kemendiknas, Balai Pustaka dan lainnya hingga terkumpul sekitar Rp 250 juta.

Dana yang terbilang sangat minim untuk sebuah ekpedisi yang cukup panjang ini, bukan jadi hambatan. Buktinya Ahmad Yunus dan rekannya serta timnya berhasil melakoni ekspedisi "gila" ini dan menuangkan ceritanya dalam buku bergenre perjalanan beroroma petualangan.

Dan buku setebal 370 hal ini, rasanya patut dimiliki siapapun termasuk guru, dosen, pelajar, mahasiswa, para penggiat alam bebas, petualang, dan penggilatouring dengan sepeda motor yang ingin memahami Indonesia lebih dekat. 

Sewaktu diluncurkan, travel book ini dibandrol Rp 75.000 per buku. Setelah itu akan dipasarkan dengan harga Rp 80.000. Ini sebuah harga yang murah buat cerita perjalanan yang sarat kejutan.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)