![]() |
| Ahmad Yunus | Dok FB |
Kami menamakan perjalanan ini dengan “Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa”. Tapi, ini bukan sekadar perjalanan. Selain berjalan-jalan kami juga berusaha mendokumentasikan kehidupan alam dan manusia di 50 gugus pulau di Nusantara. Dengan naik kapal nelayan hingga kapal milik negara, kami melompat dari satu pulau ke pulau lainnya. Mulai dari Sumatra, Kalimantan, kepulauan Maluku, Papua, Flores hingga ke Jawa lagi. Dan kemudian deretan nama pulau-pulau itu menjadi kamus baru dalam catatan saya.
Pengalaman menyeberang naik kapal laut dan melihat pulau-pulau membawa tantangan tersendiri. Pasalnya, saya bukan anak yang tumbuh dan dekat dengan laut. Saya lahir di kaki gunung Tangkuban Parahu, Bandung. Gambaran laut dalam benak saya selalu menakutkan. Ia hadir melalui kisah-kisah menyeramkan. Laut adalah dunia yang sarat mitos dan kegetiran. Namun, hari ini saya akrab dengan laut. Erat. Bahkan menikmatinya. Air laut yang asin. Bau amis ikan segar. Pasir pantai. Tamparan ombak.
Perkenalan dengan laut membuat saya bisa meraba keranuman taman terumbu karang yang elok; mendengar suara mesin kapal yang merengek; menatap cahaya matahari berpendar di tengah laut; merasakan embusan gelombang dan angin laut di kulit; memicingkan mata melihat matahari terbenam di ujung laut.
Ah, saya jatuh cinta pada laut. Pada gunung dan halimun yang dingin. Dan, pada akhirnya, pada jagat raya yang bergerak dengan rahasianya sendiri. Itulah alasan saya menyukai perjalanan. Berkunjung dari satu lokasi ke lokasi lain. Setiap persinggahan, percakapan, dan renungan dalam perjalanan memperkaya khazanah saya. Mematangkan jiwa.
Dalam perjalanan ini kami membagi tugas. Saya menulis dan mengambil gambar video; Farid lebih banyak memotret dan sesekali menulis. Dalam perjalanan kami selalu singgah di rumah warga, komunitas jurnalis, pasang tenda, tidur di warung pinggir jalan maupun musala. Hasilnya: 10.000 frame foto, setumpuk catatan perjalanan, dan 70 jam materi video!
Saya dan Farid terpaut jarak usia dua puluh tahun. Kami adalah dua manusia yang berasal dari dua generasi berbeda. Begitu pun dengan selera dan aura zaman kami berbeda. Tapi, kami memiliki kesamaan: senang bertualang.
Farid mengawali karir jurnalistiknya dengan bergabung menjadi awak redaksi majalah Tempo, majalah Editor, Harian Republika dan bergabung kembali ke majalah Tempo hingga 2003. Selama karirnya ia pernah meliput perang Bosnia, menyaksikan runtuhnya tembok Berlin pada 1990, melihat pertandingan sepakbola dunia di Amerika hingga melakukan beberapa perjalanan di Eropa. Namun, meliput Indonesia secara dekat? Sepertinya kesempatan itu baru datang sekarang.
***
Terus terang, ini merupakan pengalaman pertama bagi kami berdua. Namun, karena dibesarkan dalam tradisi jurnalisme perjalanan in

Zamrud Khatulistiwa
Kami melewati perjalanan darat di Sumatra seluas 473.606 km²; Kalimantan yang mencapai 539.460 km². Dan perjalanan darat dari Nusa Tenggara Timur hingga ke Jawa lagi. Sisanya, di Sulawesi, kepulauan Maluku, Raja Ampat hingga mencapai Merauke kami naik kapal nelayan, ferry dan kapal Pelni. Jauh? Itu belum seberapa. Entah nekat atau bodoh, sesungguhnya kami benar-benar buta rute perjalanan di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi bahkan hingga menembus Boven Digul di Papua. Kami hanya mengandalkan buku Lonely Planet edisi Indonesia dan peta yang bisa dibeli di toko buku. Buku perjalanan itu ibarat kitab suci bagi para pelancong. Buku itu sering saya baca selama perjalanan. Saking seringnya, kertasnya sampai keriting. Bahkan, beberapa kali basah akibat terkena hujan. Tapi tetap saya pertahankan buku itu, kali saja suatu saat nanti ada kolektor yang berniat membelinya, walaupun saya ragu jika memang benar ada apakah ia waras atau setengah gila. Jika tidak, buku itu tetap bermanfaat; menjadi bantal.
Kalaupun tersesat kami beruntung bertemu orang-orang biasa yang luar biasa. Bertemu, bertukar cerita, dan mendengarkan celotehan mereka, kami merasa tersesat di jalan yang benar. Mereka adalah orang-orang yang terlupakan (atau dilupakan) yang justru mengisi dan memperkaya Nusantara. Inilah catatan cerita mereka itu. Cerita tentang mereka mengalir. Memperkuat. Saling menaut dan menjalin menjadi cerita tentang Indonesia. Ibarat sebuah kain tenun, dari seuntai serat alam menjadi benang. Dan kemudian berpilin menjadi kain. Memberikan kehangatan pada tubuh manusia yang telanjang.
Tak pelak, hikayat perjalanan ini adalah tentang Indonesia. Tempat saya lahir dan tumbuh. Di negeri inilah saya mengisi hari-hari dengan kebahagiaan, kesenangan, juga penolakan yang membuat diri saya terkadang marah dan kecewa.
***
Menulis Indonesia bagaikan mengisahkan sekelumit misteri yang rumit sekaligus menantang. Seperti mengupas sebiji bawang. Lapisan demi lapisan menguak sejarah, namun begitu terkuak mata kita perih karenanya. Tapi, biarlah mata ini perih. Yang terutama adalah saya berusaha mengelupasi lapisan-lapisan Indonesia.
Ketika jari mulai mengetik di atas keyboard, pikiran seperti bermain teka-teki untuk menjawab setiap persoalan yang melilit negeri ini, mulai dari persoalan politik, ekonomi, sosial, lingkungan, budaya, hingga agama. Perjalanan ini memberikan contoh yang nyata bagaimana kerumitan dan kaburnya khayalan tentang Indonesia itu sejak kemunculan sejarah gagasan awal Indonesia, kolonialisme yang pahit, hingga pergulatannya hari ini.
Perjalanan ini mengantarkan saya untuk menyimak cerita perjalanan sebelumnya yang sangat hebat di Nusantara seperti perjalanan epik Alfred Russel Wallace, merasakan adrenalin sosok Che Guevara yang berkeliling Amerika Latin dengan sepeda motornya, dan petualangan Tintin dan anjingnya ke beberapa penjuru dunia. Wallace mencatat keunikan flora dan fauna di kepulauan Nusantara dan melahirkan bibit teori evolusi; sepulang mengelilingi Amerika Latin Che mulai mengobarkan revolusi Kuba; Tintin dan anjingnya mengabarkan keunikan karakter setiap tempat yang mereka kunjungi. Yang menakjubkan dari mereka adalah, mereka mengurai setiap misteri dan melakukan reportase yang menantang. Dan, semangat ketiga orang itu terasa menyatu ketika saya mulai memacu gas untuk kali pertama. Ada gairah yang selalu bergelora dalam darah.
Penjelajah dan pejuang seperti mereka adalah sosok pribadi yang menarik dan terhormat. Dengan kadar intelektual dan kecintaan masing-masing terhadap perjalanan, mereka turun untuk melihat kenyataan dari dekat. Bersahabat dengan matahari, lintah yang mengisap, peluru yang berdesing, dan bergulat dengan kata-kata yang tercatat dalam buku harian. Mereka menulis gagasan, pergulatan, pemikiran hingga persoalan pribadi. Mereka telah melahirkan inspirasi dan kesadaran dalam meletakkan kebenaran dan menggerakkan perubahan pada sejumput ilmu pengetahuan dan kemanusiaan.
Perjalanan ini juga menarik saya untuk menengok pada serangkaian sejarah pembentukan republik ini. Selama perjalanan ini saya bisa membaca dengan jernih bagaimana kesadaran kolektif itu bisa tumbuh, dengan segala perdebatan, polemik, dan persaingan kekuasaannya. Salah satu buku yang saya baca adalah The Idea of Indonesiakarya Robert Edward Elson. Elson adalah profesor sejarah Asia Tenggara pada School of History, Philosophy, Religion and Classics di University Queensland, Brisbane, Australia.
***
The Idea of Indonesia adalah sebuah riwayat lengkap tentang Indonesia. Buku ini merentang perjalanan sejarah Indonesia sejak awal, tentang orang-orangnya, pemikiran yang mengisi dan memaknainya, dan pergulatannya hingga hari ini. Elson melakukan riset yang telaten disertai wawancara sejumlah tokoh. Buku ini bermula dari pertanyaan: siapa Indonesia? Bagaimana sejarah kelahirannya?
Pada titik ini, khayalan saya terlempar pada beberapa abad silam, abad ketika sejumlah intelektual dari Eropa datang ke kepulauan ini dan mempelajari khasanahnya: sosial, budaya, ekonomi, politik, keragaman flora dan faunanya, agama hingga antropologinya. Siapa nama yang berkulit sawo matang dari ras Polinesia itu? Apa nama untuk kepulauan itu?
Sebelum abad kedua puluh, Indonesia tidak ada. Tak seorang pun tahu nama kawasan kepulauan ini. Orang luar mengenal kepulauan ini dengan beberapa nama, antara lain, “The Eastern Seas (Lautan Timur)”, “The Eastern Islands (Kepulauan Timur)”, dan “Indian Archipelago (Kepulauan Hindia)”. Belanda menamakan kepulauan ini sebagai “Hindia”, “Hindia Timur” atau Insulinde yang berarti “Pulau-pulau Hindia”. Belakangan seiring politik Belanda menguat, nama kepulauan ini dikenal dengan “Hindia (Timur) Belanda” dan sebagian memandangnya sebagai “Tropisch Nederland” atau “Kawasan Tropis Belanda”.
Seorang pengelana dari Inggris pada 1850, George Samuel Windsor Earl, menyebut nama kepulauan ini adalah “Indu-nesians”. Namun, ia merasa nama ini terlalu umum untuk pendekatan etnografis. Dan kemudian istilah yang dia anggap paling khusus adalah “Malayunesians”.
Namun, koleganya, James Richardson Logan lebih memilih “Indonesian”. Ia merasa kata itu lebih tepat dan benar untuk menjelaskan istilah geografis, bukan etnografis. Bahkan, penggunaan nama ini ia gunakan dalam tulisan-tulisannya “Indonesia”, “Indonesians”. Bahkan ia membagi “Indonesia” menjadi empat kawasan geografis terpisah, membentang dari Sumatra sampai Formosa di Taiwan. Sedikit demi sedikit kata “Indonesia” kemudian dipakai oleh para antropolog dan ahli linguistik dari Inggris, Jerman, Prancis maupun Belanda. Gagasan ini muncul dalam sebuah majalah ilmiah tahunan pada 1847 di Singapura. Majalah Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asiaatau JIAEA ini dikelola oleh Logan dan Earl sendiri.
***
Etnograf terkenal dari Jerman, Adolf Bastian kemudian melambungkan penggunaan nama “Indonesia” di kalangan akademisi Eropa. Ia menggunakan kata itu dalam kumpulan tulisannya sebanyak lima jilid Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel pada 1884–1894. Penggunaan nama “Indonesia” merujuk pada pengertian budaya dan tidak dalam pengertian politis.
George Samuel Windsor Earl dan James Richardson Logan adalah tokoh terhormat di Penang. Keduanya meninggal dan dimakamkan di Penang. Pulau kecil milik Malaysia yang terletak di Selat Malaka. Selat yang sangat strategis bagi perkembangan ekonomi dan politik dunia kemudian hari. Dan, saya kira Inggris tahu betul bagaimana perkembangan dunia ke depan. Ketika Inggris memiliki rencana jangka panjang yang jauh lebih solid ketimbang Belanda, mereka tahu persis peranan penting geopolitik bagi perkembangan dunia saat ini.
Tujuan mereka tak lain adalah memupuk kejayaan dan kemakmuran abadi. Strategi ini berlangsung pada saat terjadi persaingan antara Serikat Dagang Hindia Timur Belanda (VOC) dan Serikat Dagang Hindia Timur Inggris (EIC) pada abad ke 17–18. Inggris dan Belanda menukar Bengkulu dengan Singapura. Sebelum itu, ada pertukaran antara Pulau Run di kepulauan Banda dengan Manhattan, New York yang dikuasai Belanda. Francis Light, seorang warga negara Inggris, menyewa Penang dari Sultan Kedah pada 1786. Namun, Inggris tak cukup mendirikan fondasi di pulau kecil itu. Pada 1819 Thomas Raffles mendirikan pelabuhan Singapura.
Sementara itu Belanda membangun pelabuhan di Sabang, Pulau Weh pada 1887. Setelah Inggris mendirikan koloninya di Penang, kejayaan dan kemakmuran tak sebatas pada perdagangan rempah-rempah. Inggris tahu persis bagaimana menguasai perdagangan ini dan mematikan posisi Belanda.
Pada masa selanjutnya, kejayaan tak berakhir pada perdagangan rempah-rempah saja. Melainkan jauh lebih hebat dari sekedar bumbu penyedap. Di sisi lain, Belanda lebih pragmatis ketimbang Inggris dalam mendirikan koloninya. Perbedaan siasat ini memberikan dampak berbeda terhadap bekas wilayah koloninya.
***
Bagaimana nasib bekas wilayah koloni Belanda dan Inggris itu sekarang? Penang dan Singapura menjadi kota yang sangat maju dengan tingkat pembangunan ekonomi yang cepat. New York menjadi salah satu kota dunia terkuat dan modern, ia menjadi kota yang dikenal tak kenal istirahat.
Sementara Sabang, Pulau Run, dan Bengkulu mengalami nasib yang mengenaskan. Ketiga tempat itu hanya meninggalkan catatan sejarah kelam bagaimana jejak eksploitasi dan kolonialisme berlangsung di kepulauan ini. Tak ada yang lain. Rasanya tak elok membandingkan kondisi ketiga wilayah bagian Indonesia itu dengan Penang, Singapura maupun New York. Sebuah ironi sejarah yang mengenaskan. Dan begitu malang nasib perkembangannya.
Mata mulai perih, tapi tangan saya mesti terus memegang pisau untuk menguliti “bawang” Indonesia ini, meski satu dua air mata mulai menitik.
Jilid berikutnya, kita merasakan bagaimana perjalanan republik ini menukik jatuh pada titik terendah, sulit menentukan bagaimana mengisi langkah berikutnya, dan tak memberikan harapan baru bagi semua entitas etnik yang menjadi warga negara Indonesia. Ironis? Memang.
Tapi, kita mesti bersyukur. Bukankah dengan bersyukur, Tuhan menambahkan rahmat-Nya kepada kita? Ya, kita mesti bersyukur karena Indonesia kaya dengan cerita. Bahwa berbagai cerita itu diisi dengan romatisme dan konflik, sungguh itu malah memperkaya batin kita. Dengan mengetahui cerita-cerita itu kita bisa memperbaiki kehidupan untuk masa depan, untuk anak-anak dan cucu-cucu kita. Dan, bila ditelaah usaha kita tak akan ada habisnya untuk mengupas, menguliti dan mengurai Indonesia.
***
Saya merasa cerita hebat itu selalu berawal dari sebuah cerita sederhana. Maka dari itu, saya memulainya dengan bertemu orang biasa. Berbicara, melakukan wawancara, menulis dan hidup bersama mereka. Dari perjalanan ini saya masih menemukan harapan. Merekalah harapan itu. Orang-orang kecil itu. Dan, inilah sejatinya Indonesia! Diakui atau tidak, merekalah suara-suara sunyi dari anak bangsanya sendiri.
Untuk menuliskan cerita mereka itulah selama perjalanan kami tidak tidur di hotel. Kalau pun menginap paling mahal cuma Rp. 150.000 per malam. Rata-rata kami memilih tidur di rumah warga, pasang tenda di tepi jalan, menumpang tidur di warung makan, di teras surau, dan musala pinggir jalan. Kami tak pernah khawatir dalam perjalanan ini, walaupun kami membawa peralatan yang cukup mahal. Kami membawa beberapa alat pekerjaan, seperti laptop ukuran kecil, laptop untuk menyunting foto, kamera digital, kamera video dan kaset-kaset video. Sisanya alat dapur lapangan, kantong tidur, tenda, dan peralatan untuk snorkeling. Perangkat ini masuk dalam ransel. Dan sisanya, barang yang tahan banting diikat di atas motor.
[Tulisan kedua dari pembuka buku Meraba Indonesia]
[Dikutip dari laman facebook: Ahmad Yunus | https://www.facebook.com/notes/ahmad-yunus/hikayat-dari-jalanan-indonesia/10150195164996525]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar