Selasa, 16 Agustus 2011

Meraba Indonesia: Ekspedisi "Gila" Keliling Nusantara

Sebuah tagline mampu membuat saya merenung cukup lama.
Indonesia: Mencintaimu dengan sederhana.
Tagline yang merupakan judul buku dua orang wartawan pelaku ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Mencintaimu dengan sederhana. Itulah yang sedang saya rasakan.

***

Ahmad Yunus adalah salah satu penulis dan wartawan idaman saya. Bukan sekedar favorit tapi sudah ke level idaman karena saya selalu mengikuti, mencari cari tulisannya dan Insya Allah sedang mengikuti jejaknya sebagai petualang yang menjelajah sudut sudut Indonesia yang terlupakan. Ahmad Yunus mampu membawa saya ke suasana yang dibangunnya melalui tulisan tulisannya tanpa harus lebay dan menye menye. Tipikal buku yang Yunus suka, ternyata juga saya suka. Tipikal perjalanan yang Yunus suka, ternyata juga kami (suami, saya dan anak) sukai banget. Perjalanan kere diistilahkan Yunus dengan perjalanan romantis. Ahhhh...sukaa dengan istilah itu.

Menemukan Ahmad Yunus dan partner ekspedisinya, wartawan senior Farid Gaban, adalah secara tak sengaja sewaktu saya berdua suami sedang melakukan riset perjalanan keliling Indonesia dengan moda transportasi murah meriah. Dan bertemulah kami dengan Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Tanpa menunggu lama, berhasil juga saya menghubungi Ahmad Yunus yang ternyata orangnya ngocol abis, dan yang penting rendah hati, tidak sombong serta tidak pelit ilmu. Jauh sebelum mengenal sosoknya secara pribadi, saya mengikuti dengan setia kisah perjalanan Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa, membaca blognya Ahmad Yunus yang sudah berdebu karena kesibukan pemiliknya. Setelah mengenalnya secara pribadi, mulai terungkap satu demi satu mimpi mimpinya yang berawal dari rasa prihatin sekaligus bangga akan kekayaan Indonesia. Salah satu mimpi tersebut terwujud dalam bentuk "Meraba Indonesia: Ekspedisi "Gila" Keliling Indonesia" yang merupakan catatan perjalanan mereka berdua keliling Indonesia di pulau pulau terluar selama hampir satu tahun.

Buku tersebut ditulis dari perspektif personal Ahmad Yunus selama melakukan ekspedisi Zamrud Khatulistiwa dan akan segera terbit bulan Juli 2011. Pengalaman pengalaman mereka yang mendebarkan, mengharukan sekaligus menyesakkan dada dibagikan kepada kita. Saya teringat bagaimana mereka harus berkemah di pinggir jalan yang sepi di sebuah provinsi di Kalimantan. Bagaimana mereka menumpang kapal angkutan sayur antar pulau pulau kecil di kawasan kepulauan Riau lengkap dengan sepeda motor mereka dan mendapati bahwa kapal tersebut dipalak oleh tentara Angkatan Laut yang seharusnya melindungi rakyat kecil. Bagaimana mereka dengan biaya minim memodifikasi motor bekas menjadi motor trail yang tangguh melintasi jalanan di pelosok pelosok terpencil Indonesia yang lumayan ganas. Bagaimana mereka kehabisan sangu saat sedang di perjalanan dan harus pulang kembali ke Jakarta dengan duit pinjaman. Lantas kembali melakukan perjalanan setelah bekerja serabutan mengumpulkan modal kesana kemari. Toh mereka masih setia mengupload cerita cerita terbaru di situs Zamrud Khatulistiwa maupun di facebook. Karena anggapan mereka dengan mengupdate cerita terbaru, mereka sering mendapat masukan.

Seperti pengakuan Farid yang saya baca di situs Majalah Madina:

“Setiap selesai satu perjalanan, kita langsung upload foto di facebook. Dari sanalah kita mendapatkan reaksi. Reaksi inilah yang kemudian menyemangati kami untuk terus menceritakan lebih banyak, lagi, dan lagi,” tutur Farid.

“Kami juga mendapat masukan tentang lokasi mana yang sebaiknya dikunjungi atas saran teman-teman di facebook. Saya pikir ini adalah ekspedisi pertama yang dilakukan secara interaktif,” tutur Farid.

Dengan bantuan tim pendukung ekspedisi ini, seluruh hasil liputan Farid dan Yunus yang telah terdokumentasikan di website menjadi karya jurnalistik yang dapat digunakan oleh siapa pun, tanpa kecuali. Syarat penggunaannya hanya satu; mencantumkan nama dan sumber. Farid menyatakan bahwa tidak ada hak cipta (copyright) untuk seluruh hasil ekspedisi ini. Semua digratiskan untuk digunakan oleh masyarakat.

“Semua bisa menyebarluaskan. Kami tidak mencari uang dari hasil ekspedisi ini. Kami yakin kami bisa menghasilkan uang dari sisi yang lain. Biar miskin, tapi sombong,” kelakar Farid yang disambut gelak tawa dan riuh tepuk tangan para undangan yang hadir malam itu.


Saya sangat setuju dengan mereka bahwa silakan mencomot foto dan tulisan dari internet asal mencantumkan linknya. Bukan mengaku ngaku sebagai hasil karya sendiri apalagi sampai mengkomersilkan. Akan lebih baik lagi bila minta ijin terlebih dahulu. Itu etikanya.

Selain buku Meraba Indonesia: Ekspedisi "Gila" Keliling Nusantara", masih akan ada rekaman jejak jejak perjalanan ekspedisi mereka yang mengantri untuk diluncurkan. Ide dan semangat berjejalan di benak mereka dan menunggu untuk direalisasikan. Baik yang akan dibuat secara perorangan oleh Farid Gaban atau Ahmad Yunus, maupun secara mereka berdua.

Di bawah ini saya kutipkan kata pengantar dari buku Meraba Indonesia: Ekspedisi "Gila" Keliling Indonesia

HIKAYAT DARI JALANAN: INDONESIA

(Bagian pertama dari pengantar buku saya "Meraba Indonesia". Buku ini akan terbit pada Juli 2011 oleh penerbit Serambi Ilmu Semesta. Buku ini merupakan catatan personal dari perjalanan ekspedisi Zamrud Khatulistiwa Juni 2009 - Juni 2010. Selamat membaca).

PADA sebuah jendela gerbong yang buram dan sedikit pecah di ujung sudutnya, saya duduk melepaskan pandangan. Di luar, suasana Stasiun Bandung begitu riuh demikian penuh. Para penumpang dan orang-orang yang tidak bisa lepas oleh keseharian di bangunan yang didirikan pada 1870 itu. Tentu saja, wajah bangunan itu sudah berubah sejak pertama kali berdiri. Namun yang tak bisa diubah adalah sebuah fakta bahwa ini bagian penting dari tongak perubahan Kota Bandung. Bahkan sejak Daendels menancapkan tongkatnya di bumi Parahyangan. Dan mengatakan “coba usahakan bila aku datang kembali di tempat ini dibangun sebuah kota,”. 200 tahun kemudian, Kota Bandung menjelma menjadi salahsatu kota terpenting di Indonesia.

Dengan menumpang kereta api ini saya hendak menuju Jember, Jawa Timur. Tapi, tak ada kereta api langsung menuju ke sana. Karena itu, saya naik kereta api Malabar jurusan Bandung–Malang.

Kereta api yang saya tumpangi mulai melaju pelan untuk selanjutnya melewati kota-kota kecil. Ia singgah di setiap stasiun kota yang menawarkan ayam goreng, nasi pecal, dan segelas kopi murah. Kereta api yang saya tumpangi tampak lapuk. Ia melewati setiap meter jarak dengan ringkih, tertatih-tatih.

Dan, saya duduk di salah satu bangku di pojok gerbong sepuh itu. Berdesakan. Padahal tubuh dan pikiran saya masih lelah setelah menempuh perjalanan panjang. Bersama wartawan senior, Farid Gaban, saya baru saja mengelilingi Indonesia dengan mengendarai motor selama hampir setahun. Bayangan perjalanan masih lekat menempel dalam benak dan terus berkelebat seperti potongan adegan film yang terputus-putus.

Tak berapa lama, mata mulai dirampok kantuk. Untuk mengatasinya, saya mengedarkan pandangan ke sekujur gerbong. Menatap gerbong seakan melemparkan imajinasi saya ke masa lalu. Ada semacam romantisme di sana. Di dalam gerbong, saya membayangkan secuil potret kejayaan Jawa pada masa silam. Sebuah masa saat Belanda membangun infrastruktur jalur kereta api di Hindia Belanda, terutama di Jawa.

Tak bisa dimungkiri, kereta api menggerakkan dan mengubah dengan cepat arus lintas kehidupan Jawa. Kereta api mendorong para pedagang dan banyak profesi lain di seluruh penjuru Nusantara untuk berhamburan menuju Jawa. Ada persinggungan lalu lintas budaya, bahasa, ekonomi dan politik dalam kereta api. Namun, di atas semua itu keberadaan kereta api adalah tanda kekokohan kolonialisme Belanda di negeri ini. Kendati mulai menginjakkan kaki pertama kali pada akhir abad 15, Belanda mulai memancangkan tiang kolonialisme secara politis pada abad ke-18. Di sisi lain, Inggris berhasil membangun koloninya di Malaysia dan Singapura, dan menandatangani sejumlah perjanjian penting dengan Belanda yang menguasai Nusantara.

Sejak itu, Belanda mulai menciptakan kawasannya. Belanda juga mengatur perangkat lain berupa kesamaan mata uang, administrasi, hingga pranata hukum yang terpusat. Perubahan keadaan ini membentuk satu model pembangunan ala Jawa. Maka, Jawa menjadi daerah yang terpusat, birokratis, dan kuat secara politis. Tentu tak ada yang salah dengan soal keterpusatan. Namun bila keterpusatan itu menggadaikan daerah lain, apalagi terpencil tentu ini keliru. Dan inilah yang tengah berjalan di Indonesia.

Sayangnya, kekeliruan ini terus berlanjut setelah negeri ini merdeka. Sungguh sayang. Pasalnya, keterpusatan Jawa ini melahirkan ironi­­––untuk tidak menyebutnya sebagai musibah. Jawa yang diwakili Jakarta terlalu pongah untuk menetapkan aturan. Ada banyak peraturan yang jika diterapkan sungguh tidak sesuai dengan kondisi di luar Jakarta. Dan, selama perjalanan ke pulau-pulau terluar dan sejumlah daerah lain di luar Jawa saya melihat ketidaksesuaian itu dengan mata kepala sendiri, dengan gamblang.

“Tetapi Indonesia bukan hanya Jakarta,” kata Iwan Fals. Selain Jawa negara ini masih memiliki tujuh belas ribu pulau lain. Hati bisa ciut jika melihat fakta betapa besarnya luas wilayah republik ini. Luas kepulauan Nusantara ini membentang sejauh 4.000 mil dari timur ke barat. Dan jarak antara utara ke selatan sekitar 1.300 mil. Luas kepulauan ini sama dengan luas Eropa dari ujung barat sampai Asia Tengah. Jumlah itu menandakan kekayaan bangsa ini. Begitu kaya, bukan? Ah, bukankah pernyataan ini klise belaka. Memang. Namun, saya tak bisa menghindarinya. Dengan menghindarinya, justru seperti menutupi kenyataan. Setidaknya, dengan mengungkap terus-menerus, walaupun berakibat kita terlihat sangat cerewet, bahwa kita memang kaya akan membangkitkan semangat kita untuk kembali menengok Indonesia dan terus mencintai negeri ini. Dan, saya, sialnya, jatuh cinta ke Indonesia. Berkali-kali.

Saya yakin, saya tidak sendirian. Masih banyak orang yang memiliki perasaan yang sama. Maka, tentu tak aneh bila ada banyak orang yang berhasrat untuk mengelilingi Indonesia. Mengembara. “Berkelana,” kata Rhoma Irama. Mereka bermimpi dan ingin tahu bagaimana wajah Indonesia yang sebenarnya. Menyusuri perjalanan dari Sabang hingga Merauke. Bahkan, sampai kapan pun keindahan Nusantara akan melekat pada kesadaran orang yang pernah dan punya pengalaman berkeliling Indonesia. Beruntung saya pernah melihat Indonesia dari dekat dan meleburkan khayalan tentangnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar