Selasa, 16 Agustus 2011

‘MERABA INDONESIA’…… ekspedisi “gila” keliling Nusantara


Buku ini seperti sambal. Pedas tapi bikin ketagihan. 
Catatan yang membuka mata tentang kenyataan Indonesia dari pinggiran. 
Sebuah buku yang mampu menangkap denyut kehidupan orang biasa yang mengisi wajah Indonesia 
– Andy F.Noya, Host kick Andy -

  
Salah satu dari beberapa kalimat yang dilontarkan oleh para pembaca buku Meraba Indonesia dan ikut menghiasi cover serta halaman pertama buku tersebut. Memang sepantasnya dikatakan bahwa buku Meraba Indonesia ini seperti ‘sambal’ karena di dalamnya kita dapat menemukan kenyataan pedas, pedih, getir mengenai Indonesia–Nusantara yang berada di pulau-pulau terdepan bangsa kita yang masih jauh dari gapaian tangan pemerintah, rangkulan media massa, dan sentuhan tangan masyarakat Indonesia lainnya. Mereka masih hidup miskin, apa adanya, dan serba kekurangan.
Dengan buku Meraba Indonesia, penulis ingin menyampaikan melalui catatan-catatan perjalanan sehari-harinya selama hampir satu tahun mengarungi luasnya Indonesia-Nusantara yang mereka sebut Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa kepada kita bagaimana keadaan saudara-saudara kita yang tinggal di barisan pulau terdepan (yang masih sering dikatakan daerah pinggiran/pulau terluar) padahal mereka adalah bangsa Indonesia juga sama seperti kita. Namun, apa yang mereka dapatkan sekarang masih jauh dari harapan, dan mereka seringkaliterlupakan serta terabaikan.
Diskusi yang berlangsung di Newseum, Veteran, Jakarta ini cukup banyak diminati oleh berbagai kalangan diantaranya penulis, jurnalis, budayawan, wartawan, arsitek, mahasiswa, komunitas film dokumenter, komunitas pelestarian budaya dan sebagainya. Acara ini masih ramai hingga malam tiba pukul 10.00 WIB, banyak pertanyaan yang muncul dan dijawab dengan gamblang disertai canda tawa sehingga tidak terasa jenuh dan membosankan.
 
Kehadiran Ahmad Yunus dan Farid Gaban memberikan inspirasi bagi kaum muda lainnya lewat pandangan, sikap, dan kata-kata mereka yang dilontarkan apa adanya. Hadir pula budayawan dan peneliti Urbanus Antara Institute yakni Taufik Rahzen yang pada saat diskusi tersebut memberi pandangan, masukan, saran dan kritik beliau kepada penulis terhadap buku Meraba Indonesia dan Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa itu sendiri. Beliau mengakui bahwa sang Ahmad Yunus dan Farid Gaban telah melakukan terobosan baru di bidang jurnalistik/media massa yang pada waktu-waktu sebelumnya selalu menyajikan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat bukannya memperlihatkan kenyataan sebenarnya.
Sebelum acara diskusi dimulai, kami disuguhkan pemutaran film Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa yang memperlihatkan perjalanan penulis dari satu pulau ke pulau lainnya, berdurasi kurang lebih setengah jam, namun sudah cukup membuat kami miris dan tersadar dari lamunan bahwa ternyata Indonesia-Nusantara tidak hanya kaya akan sumber daya alam, wisata, flora fauna, adat istiadat, keragaman ras, suku, bahasa, dan budayanya.
   
Namun ironisnya, bahwa apa yang tersaji di film tersebut yakni perusakan sumber daya alam, kelangkaan flora fauna, semakin sedikitnya penduduk, ras, suku lokal/daerah yang masih mempertahankan adat, budaya dan bahasa daerah. Daerah-daerah potensi wisata juga semakin tercemar dan tidak terawat. Indonesia sebagai jantung terumbu karang dunia juga tidak mampu melestarikannya, banyak kecantikan alam yang sudah ternoda oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Masyarakat daerah pesisir masih hidup susah, penduduk daerah tidak mendapat fasilitas pendidikan dan kesehatan yang layak. Masih banyak lagi kekayaan Indonesia sekaliguskenyataan menyedihkan Indonesia lainnya yang tidak akan mungkin dapat dijabarkan dalam satu film bahkan seumur hidup kita.
Selama hampir setahun, dua wartawan kawakan, Farid Gaban dan Ahmad Yunus, mengelilingi Indonesia. Dengan mengendarai sepeda motor win 100 cc bekas yang dinodifikasi, mereka mengunjungi pulau-pulau terdepan dan daerah-daerah bersejarah di Nusantara. Dari Sabang sampai Merauke, Dari Miangas hingga Pulau Rote.Ratusan orang telah mereka wawancarai, ratusan tempat telah mereka singgahi. Menghasilkan 70 jam video perjalanan, 10.000 frame foto dan setumpuk catatan perjalanan.
Tujuan utama ekspedisi ini adalah mengagumi dan menyelami Indonesia sebagai negri bahari. Di atas semua itu, mencatat keseharian masyarakat yang mereka temui. Mencatat dari dekat. Bagi penulis, perjalanan ini adalah bagian dari upayanya untuk menjawab pertanyaan pribadinya tentang Indonesia. Seperti kata pepatah “Tak kenal maka Tak sayang” demikianlah yang dilakukan penulis untuk lebih mendekatkan dirinya kepada bangsa dan negara yang telah membesarkan dia. Mengenal lebih dekat, lebih rekat, mencintai Indonesia apa adanya.
Dengan adanya buku Meraba Indonesia ini pun diharapkan akan memperbaiki citra jurnalistik Indonesia yang selama ini lebih mengedepankan berita dan informasi yang berbau komersial, politik, dan entertainment semata agar nantinya dapat menjadi media/wadah yang merangkul, menampung, dan memprioritaskan aspirasi masyarakat hingga pelosok dan pulau-pulau terkecil, sehingga dapat lebih memperlihatkan kenyataan dan menjawab permasalahan yang ada di tengah-tengah masyarakat dan seluruh sumber daya alam Indonesia.

/Peluncuran perdana dan diskusi buku Meraba Indonesia, pemutaran film Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa, 27 Juli 2011, Newseum Veteran Jakarta

Meraba Indonesia

“Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat” (Soe Hok Gie)

Ini adalah tulisan yang panjang. Entah review atau bukan, yang pasti banyak catatan penting yang harus saya tuliskan. Dan saya memerlukan waktu beberapa hari untuk menulis. Karena saya tidak mau ada yang tertinggal.

Tak tau mengapa, ketika ada undangan pemutaran film “Meraba Indonesia” di Galeri Antara, saya begitu tergerak untuk datang. Jarak yang tidak dekat, dari kantor di bilangan Duren Sawit menuju Pasar Baru tidak menghalangi rasa penasaran saya. Alhasil, meskipun sedikit telat, saya berhasil mengikuti acara sampai dengan selesai diskusi dari oknum aktor di film ini.

Menonton filmnya, intinya cuma satu, this is “The Indonesia Motorcycle’s Diary”. Hehehe.. Dan membaca bukunya, kalian akan berpikir akan sisi lain Indonesia. Tapi realita. Bisa lebih membuka pikiran bahwa Indonesia itu bukan Jakarta. Dan menjadikan berita yang disajikan di televisi bisa tidak berarti dalam kehidupan masayarakat Pulau Sebatik atau suku Banggai. Dan kadang media tidak memberikan kontribusi apa-apa bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Bahkan bisa memperkeruh suasana. Seperti yang terjadi pada konflik Poso dan Ambon.

Bagi saya, tulisan Yunus seperti Lupus. Kok begitu? Ya karena menggelitik. Seperti membaca Pram. Cukup banyak sejarah yang dicatatnya. Juga bagaikan ensiklopedia kecil keanekaragaman hayati Indonesia. Dan pasti keadaan sesungguhnya Indonesia yang bisa membuat seorang saya berpikir lebih terbuka mengapa mereka di perbatasan lebih memilih merdeka. Atau mungkin sependapat dengan penulis untuk berhenti di satu titik timur Indonesia. Di usia senja mungkin.

Ya. Ahmad Yunus, seorang jurnalis lepas, bersama Farid Gaban, yang lebih senior telah melakukan ekspedisi keliling Indonesia selama 10 bulan. Dari Sabang sampai Merauke. Naik motor.. ngeng ngeng..

Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Ekspedisi 80 pulau, 10.000 frame foto, dan 70 jam video. Mereka mengakui (bahkan saya) “Dari Sabang Sampai Merauke” bahwa adalah hanya sebatas salah satu lagu wajib. Tapi mungkin kalian lebih memilih dan mengidamkan untuk keluar negeri. Singapura dan Malaysia misalnya. Orang gengsi kalau belum bernah keluar negeri. Bah! Kalian salah. Orang yang pernah keliling Indonesia uangnya lebih banyak dibanding yang pernah ke dua negara tetangga itu. Untuk bisa keliling Indonesia timur saja memerlukan biaya yang sama ketika kamu berkeliling Eropa. Plus keuntungan tidak diperlukan mengurus visa. Pada bagian Hikayat Dari Jalanan: Indonesia dijelaskan luas kepulauan Nusantara ini membentang sejauh 4.000 mil dari Sabang sampai Merauke, 1.300 mil dari Miangas sampai Pulau Rote. Dan luas itu sama dengan ujung barat Eropa sampai Asia Tengah. Mangap ga tuh mulut lo? Gue aja sampe tahan napas.

Ketika duo jurnalis ini memutuskan menulis tentang pengalaman mereka di Selat Malaka, pun begitu dengan saya. Dan ini penting. Saat membaca tulisan ini, saya jadi marah sendiri. Mungkin juga dengan kalian.
Dalam perjalanan di atas kapal pengangkut sayur dan buah, dari Dumai menuju Batam, mengalami empat kali patroli. Pertama dari marinir. Umur sekitar 25 tetapi sok 45. Setor tiga lembar 50 ribuan + tambahan satu lembar lagi. Tidak butuh waktu lama, dipatroli lagi oleh angkatan laut. Setor 150 ribu. Ketika pelabuhan Singapura terlihat, setor 200 ribu untuk kapal polisi laut. Sampai di pelabuhan Batam, setor lagi 150 ribu buat boat polisi laut. Kalau diabaikan? Ya babak belur. Teman, itulah perompak dari Selat Malaka. Perompak yang saya kira adalah penduduk pengangguran yang tidak berpendidikan. Tetapi ternyata saya salah. Mereka berseragam, yang seharusnya menjaga kapal-kapal sayur, buah, dan ikan nelayan. Kayaknya burung garuda ga pernah makan anaknya sendiri deh. Indonesia.

Membaca buku ini wajib hukumnya membuka peta Indonesia. Untuk melihat dimana letak tempat yang disebutkan, apa yang ada dan terjadi di sana. Konflik sosial, budaya, dan tentu saja politik. Terlebih ketika berada di Pulau Sebatik. Jangan sekali-kali berbicara nasionalisme dengan masyarakat Sebatik. Ketika nasionalisme di Jakarta mengelu-elukan “Ganyang Malaysia” sehingga mulut penuh buih liur, abstrak, tetapi “Di sini tidak ada perang. Saya tidak takut” begitu kata Samir, seorang nelayan Sebatik. Bagi mereka yang terpenting adalah bagaimana mereka dapat bertahan hidup. Walau lebih memlilih pergi ke Tawau (Karisidenanan Malaysia) ketimbang harus ke Tarakan atau Nunukan karena memerlukan waktu dan dana tiga kali lipat, tetapi mereka masih setia dengan menjadi warga negara Indonesia. Kurang nasionalisme apa cui? Saya paham, mengapa muncul GAM atau OPM.

Kalian tau Pulau Miangas? Hayoo..buka petanya duluuu..:) saya bantu dengan jargon. “Dari Sabang sampai Merauke. Dari Miangas sampai Pulau Rote” atau “Kami selalu dengan kalian di sana. Karena itu, teguhlah dalam mejaga kedaulatan NKRI.” Begitu modal kampanye 2009 lalu. Tetapi sampai detik ini beliau tidak pernah datang. Pulau ini menjadi obyek penderita isu datangnya teroris dari Filipina. Ya, buat saya sih wajib hukumnya ada pemeriksaan yang mungkin lebih ketat di wilayah perbatasan. Tapi ga usah lebay. Ga usah sok menjaga kedaulatan. Tapi warganya tidak menikmati listrik. Miskin. Hanya modal stereotip yang berjenggot, asal tuduh teroris. Ditangkap. Setelah disodorin kartu pers baru nyaho. Kalo gue jadi warga Miangas mah gue beli bendera Filipina trus gue tancepin aje tuh di depan rumah atau alun-alun kota (kalau ada). Pemerintah hanya memberikan jargon tetapi menuntut warga perbatasan mencintai Indonesia.

Masih ingin membaca tulisan saya? Kalau tidak, ya silakan berhenti. Kalau masih, mungkin kalian bisa nyalakan rokok.

Di awal cerita Yunus tentang Flores. Saya melihat toleransi kecil tentang pengalaman pribadi penulis ketika bertugas di Flores Pos. Saya setuju ketika ia menulis; Saya semakin mengerti bagaimana seharusnya kita meletakkan agama dalam kehidupan. Karena itu Pancasila lahir di sini. Tetapi di balik kehidupan harmonis umat beragama di pulau yang memang Katholik itu, ternyata ada sejarah kelam yang tidak pernah tercatat. Adalah Leonardo Lidi, pencipta lagu “Wohe Hoer” (Ratapan). 1965, ia masih 17 tahun. Tetapi sudah melihat 33 orang dikumpulkan di lapangan sepakbola. Tangan diikat lalu kepala dipenggal sekali seperti ayam oleh algojo yang ditunjuk dan dilatih membantai oleh tentara. Tidak ada alasan jelas. Hanya karena wacana petani adalah PKI, mereka mati. Atau beragama Katholik, karena sempat merebak PKI adalah Partai Katholik Indonesia. Dan ketika ada algojo yang menangis, atau korbannya lepas, algojo tersebut akan menjadi gantinya. Plus empat saudaranya. Lalu mayat-mayat tanpa dosa tersebut dibuang ke laut atau dimasukan dalam satu lubang. Dan kejadian bengis itu tidak hanya terjadi di kampung perempuan 67 tahun tersebut, genosida yang mengatasnamakan PKI itu cepat menyebar ke kampug-kampung lain. Dan angkanya mencapai 2000 korban jiwa. 1965 juga ada 12.000 orang dibuang ke Pulau Buru tanpa pengadilan. Tidak tau apa alasannya. “Saya minta jangan terulang lagi kasus 1965 itu di negara tercinta Indonesia. Mungkin sampai akhirat pertanyaan ini selalu ada. Ini rahasia negara atau pelanggaran HAM?”, kata Bapak A, seoarang algojo yang harus mengikat kakaknya sendiri. Dan kalian tau, hanya Gus Dur, presiden Indonesia yang meminta maaf atas peristiwa ini.

Sejarah kelam di Maumere ini mengingatkan penulis dan kita semua ketika belanda mengasingkan Bung Karno ke Ende. Sekitar tahun 1933. Di dalam keterasingan, di bawah pohon sukun, beliau duduk mengahadap ke laut. Membayangkan kenanekaragaman suku, ras, agama, dan budaya. Bung Karno banyak beriskusi dengan pastor-pastor Belanda maupun Jerman. Dan lahirlah Pancasila. Tetapi di kampong halaman Pancasila ini pernah terjadi peristiwa yang tidak berketuhanan, berkemanusiaan, dan berkeadilan. Mungkin hanya sepenggal lirih suara Leonardo Lidi melantunkan lagunya:
Kepada siapa kami mengadu
Hanya ada satu jalan, kepada pastor dan kepada Tuhan.

Meraba Indonesia, membukakan mata dan hati siapa saja yang menonton film dan membaca bukunya. Banyak ironi. Kekayaan alam Indonesia ini hanya dinikmati para penguasa. Bagaimana bebasnya mereka mengubah hutan menjadi perkebunan kelapa sawit hanya untuk tebalnya kantong semata. Mereka tidak berpikir bahwa kerusakan ekosistem Kepulauan Mentawai bahkan sungai Kapuas bias digunakan bermain sepakbola dikala musim kemarau. So, saya tidak bangga dengan kelapa sawit. Kalian juga dapat meraba sistem transportasi laut khususnya Indonesia timur. Atau masyarakat adat yang semakin terpinggirkan.

“Jika negara tidak mengakui masyarakat adat, jangan heran bila ada masyarakat yang tidak mengakui keberadaan negara.”

Meraba Indonesia dengan Sepeda Motor


Banyak cara menyelami Indonesia lebih jauh.., lebih dalam. Ada yang berjalan kaki menyusuri pelosok, mendaki gunung, keliling naik sepeda, berlayar dan lainnya. Semua sah-sah saja. Dan kini giliran Ahmad Yunus mengelilingi Nusantara dengan sepeda motor. Kisah perjalanannya dirangkum dalam buku bertajuk Meraba Indonesia. Banyak kejutan yang ditemui di sejumlah pulau yang disambanginya. Kejutan apa saja? 

Ketika kali pertama melihat sampul muka buku Meraba Indonesia, terus terang saya terusik judulnya. Pemakaian kata meraba, seolah penulisnya baru sampai tahap meraba-raba. Masih dalam tataran permukaan atau kulitnya, belum isinya.

Seakan belum sampai ke tahap menggelitik, mencubit apalagi menampar Indonesia, dalam artian memasuki lebih dalam lagi kondisi daerah-daerah yang disinggahinya.

Atau bisa jadi, penulisnya ingin menyembunyikan realitas Indonesia yang dilihatnya, bahwa sebenarnya ada banyak permasalahan begitu besar, komplek, dan sangat parah yang menggunung es, namun didiamkan atau sengaja didiamkan oleh masyarakat dan pemerintah.

Namun setelah mendengar cerita singkat Ahmad Yunus saat peluncuran buku ini di Jakarta, Rabu (27/7/2011), sebenarnya dia sudah berusaha mengenal Indonesia lebih dekat terutama daerah-daerah yang dikunjunginya meskipun terbilang singkat.

Penggunaan sepeda motor, jelas sangat membantunya memangkas waktu perjalanan dibanding kalau dia melakukannya dengan berjalan kaki ataupun dengan sepeda kayuh biasa.

Perjalanan yang dilakukannya sejak 5 Juni 2009 sampai Juni 2010 dengan rekannya bernama Farid Gaban ini bukan sekadar mendokumentasikan pulau-pulau yang sudah dipilihnya. Melainkan pula merenangi (belum menyelami) kehidupan masyarakatnya, ekonomi, sosial, sejarah, dan lainnya.

Dia tegaskan bahwa ini merupakan perjalanan jurnalistik karena bersifat interaktif. Maksudnya, dalam berbagai kesempatan dia selalu menginformasikan hasil perjalanannya lewat facebook, website, dan milist.

Dia berusaha lebur dengan masyarakat sebisa mungkin untuk mendapatkan gambaran utuh, meski mungkin belum semua tergambarkan secara rinci, mengingat keterbatasan waktu.

Pemilihan sepeda motor Honda Win bermesin 100 cc bukan tanpa sebab. Kendati motor ini kalau balapan dengan motor bebek sekarang, dipastikan kalah. Namun disisi lain terutama kebandelan mesin dan keiritan pemakaian bahan bakarnya justru dinilainya lebih unggul. Cukup dengan 1 liter bensin, motor setianya ini mampu menempuh jarak 25 Km.

Saat dia berangkat dari Tugu Monas, Jakarta tak ada perayaan pelepasan sebagaimana ekspedisi besar lainnya. Dia dan Farid Gaban dan rekan-rekannya hanya putar-putar dengan sepeda motor dan sempat melewati Istana Presiden. Baru kemudian melaju menuju Merak, menyeberang ke daratan Sumatera, mulai dari Lampung dan seterusnya hingga ujung Aceh.

Tak banyak perlengkapan yang dibawa. Hanya laptop, kamera, kamera video, pakaian, peralatan masak, tenda, dan sleeping bag.

Tak sedikit hambatan yang ditemui. Misalnya ketika hendak ke pedalamam Mentawai, sampan atau perahu kayu yang ditumpanginya terbalik. Laptop dan kameranya pun tercebur, rusak, dan batal ke pedalaman Mentawai.

Tak ada pilihan, dia pun kembali ke Padang. Kemudian timnya yang di Jakarta terbang ke Padang membawa peralatan baru. Baru kemudian dia meneruskan perjalanan ke Nias, Sabang hingga berakhir di Natuna, Kepri.

Total perjalanannya di Pulau Sumatera saja sekitar 2 bulan. Kemudian disambung ke Kalimantan, kawasan Indonesia Timur dan berakhir di Pulau Jawa dengan finishdi Jakarta.

Rp 15.000 Per Liter
Banyak kejutan yang didapatnya selama perjalanan. Di Pulau Enggano, pulau terluar Indonesia yang terletak di Barat Bengkulu, dia amat terkejut dengan harga BBM bensin sampai Rp 15.000 per liter.

Harga fantastis itu disebabkan begitu terisolir daerahnya. Dia catat, kalau infrastruktur di pulau itu masih jauh dari kata memadai. Akses menuju ke sana sangat sulit dan tergantung faktor alam. Kalau lagi cuaca buruk, jangan harap kapal-kapal mau menyeberang ke sana.

Di Mentawai, meski aksesnya tak terlalu sulit dibanding ke Enggano, dia menemukan keunikan tersendiri. Masyarakatnya punya kekhasan seni budayanya termasuk ekosistem, dan flora-faunanya.

Untuk melakukan perjalanan panjang dan melelahkan ini, jelas bukan cuma menguras waktu, pikiran, dan tenaga pun dana. Untunglah proposal buku ini yang dibuat Farid Gaban kemudian ditawarkan ke berbagai intansi mendapat sambutan. Dan akhirnya proposal buku itu dibeli oleh Kemendiknas, Balai Pustaka dan lainnya hingga terkumpul sekitar Rp 250 juta.

Dana yang terbilang sangat minim untuk sebuah ekpedisi yang cukup panjang ini, bukan jadi hambatan. Buktinya Ahmad Yunus dan rekannya serta timnya berhasil melakoni ekspedisi "gila" ini dan menuangkan ceritanya dalam buku bergenre perjalanan beroroma petualangan.

Dan buku setebal 370 hal ini, rasanya patut dimiliki siapapun termasuk guru, dosen, pelajar, mahasiswa, para penggiat alam bebas, petualang, dan penggilatouring dengan sepeda motor yang ingin memahami Indonesia lebih dekat. 

Sewaktu diluncurkan, travel book ini dibandrol Rp 75.000 per buku. Setelah itu akan dipasarkan dengan harga Rp 80.000. Ini sebuah harga yang murah buat cerita perjalanan yang sarat kejutan.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Meraba Indonesia: Ekspedisi "Gila" Keliling Nusantara

Sebuah tagline mampu membuat saya merenung cukup lama.
Indonesia: Mencintaimu dengan sederhana.
Tagline yang merupakan judul buku dua orang wartawan pelaku ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Mencintaimu dengan sederhana. Itulah yang sedang saya rasakan.

***

Ahmad Yunus adalah salah satu penulis dan wartawan idaman saya. Bukan sekedar favorit tapi sudah ke level idaman karena saya selalu mengikuti, mencari cari tulisannya dan Insya Allah sedang mengikuti jejaknya sebagai petualang yang menjelajah sudut sudut Indonesia yang terlupakan. Ahmad Yunus mampu membawa saya ke suasana yang dibangunnya melalui tulisan tulisannya tanpa harus lebay dan menye menye. Tipikal buku yang Yunus suka, ternyata juga saya suka. Tipikal perjalanan yang Yunus suka, ternyata juga kami (suami, saya dan anak) sukai banget. Perjalanan kere diistilahkan Yunus dengan perjalanan romantis. Ahhhh...sukaa dengan istilah itu.

Menemukan Ahmad Yunus dan partner ekspedisinya, wartawan senior Farid Gaban, adalah secara tak sengaja sewaktu saya berdua suami sedang melakukan riset perjalanan keliling Indonesia dengan moda transportasi murah meriah. Dan bertemulah kami dengan Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Tanpa menunggu lama, berhasil juga saya menghubungi Ahmad Yunus yang ternyata orangnya ngocol abis, dan yang penting rendah hati, tidak sombong serta tidak pelit ilmu. Jauh sebelum mengenal sosoknya secara pribadi, saya mengikuti dengan setia kisah perjalanan Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa, membaca blognya Ahmad Yunus yang sudah berdebu karena kesibukan pemiliknya. Setelah mengenalnya secara pribadi, mulai terungkap satu demi satu mimpi mimpinya yang berawal dari rasa prihatin sekaligus bangga akan kekayaan Indonesia. Salah satu mimpi tersebut terwujud dalam bentuk "Meraba Indonesia: Ekspedisi "Gila" Keliling Indonesia" yang merupakan catatan perjalanan mereka berdua keliling Indonesia di pulau pulau terluar selama hampir satu tahun.

Buku tersebut ditulis dari perspektif personal Ahmad Yunus selama melakukan ekspedisi Zamrud Khatulistiwa dan akan segera terbit bulan Juli 2011. Pengalaman pengalaman mereka yang mendebarkan, mengharukan sekaligus menyesakkan dada dibagikan kepada kita. Saya teringat bagaimana mereka harus berkemah di pinggir jalan yang sepi di sebuah provinsi di Kalimantan. Bagaimana mereka menumpang kapal angkutan sayur antar pulau pulau kecil di kawasan kepulauan Riau lengkap dengan sepeda motor mereka dan mendapati bahwa kapal tersebut dipalak oleh tentara Angkatan Laut yang seharusnya melindungi rakyat kecil. Bagaimana mereka dengan biaya minim memodifikasi motor bekas menjadi motor trail yang tangguh melintasi jalanan di pelosok pelosok terpencil Indonesia yang lumayan ganas. Bagaimana mereka kehabisan sangu saat sedang di perjalanan dan harus pulang kembali ke Jakarta dengan duit pinjaman. Lantas kembali melakukan perjalanan setelah bekerja serabutan mengumpulkan modal kesana kemari. Toh mereka masih setia mengupload cerita cerita terbaru di situs Zamrud Khatulistiwa maupun di facebook. Karena anggapan mereka dengan mengupdate cerita terbaru, mereka sering mendapat masukan.

Seperti pengakuan Farid yang saya baca di situs Majalah Madina:

“Setiap selesai satu perjalanan, kita langsung upload foto di facebook. Dari sanalah kita mendapatkan reaksi. Reaksi inilah yang kemudian menyemangati kami untuk terus menceritakan lebih banyak, lagi, dan lagi,” tutur Farid.

“Kami juga mendapat masukan tentang lokasi mana yang sebaiknya dikunjungi atas saran teman-teman di facebook. Saya pikir ini adalah ekspedisi pertama yang dilakukan secara interaktif,” tutur Farid.

Dengan bantuan tim pendukung ekspedisi ini, seluruh hasil liputan Farid dan Yunus yang telah terdokumentasikan di website menjadi karya jurnalistik yang dapat digunakan oleh siapa pun, tanpa kecuali. Syarat penggunaannya hanya satu; mencantumkan nama dan sumber. Farid menyatakan bahwa tidak ada hak cipta (copyright) untuk seluruh hasil ekspedisi ini. Semua digratiskan untuk digunakan oleh masyarakat.

“Semua bisa menyebarluaskan. Kami tidak mencari uang dari hasil ekspedisi ini. Kami yakin kami bisa menghasilkan uang dari sisi yang lain. Biar miskin, tapi sombong,” kelakar Farid yang disambut gelak tawa dan riuh tepuk tangan para undangan yang hadir malam itu.


Saya sangat setuju dengan mereka bahwa silakan mencomot foto dan tulisan dari internet asal mencantumkan linknya. Bukan mengaku ngaku sebagai hasil karya sendiri apalagi sampai mengkomersilkan. Akan lebih baik lagi bila minta ijin terlebih dahulu. Itu etikanya.

Selain buku Meraba Indonesia: Ekspedisi "Gila" Keliling Nusantara", masih akan ada rekaman jejak jejak perjalanan ekspedisi mereka yang mengantri untuk diluncurkan. Ide dan semangat berjejalan di benak mereka dan menunggu untuk direalisasikan. Baik yang akan dibuat secara perorangan oleh Farid Gaban atau Ahmad Yunus, maupun secara mereka berdua.

Di bawah ini saya kutipkan kata pengantar dari buku Meraba Indonesia: Ekspedisi "Gila" Keliling Indonesia

HIKAYAT DARI JALANAN: INDONESIA

(Bagian pertama dari pengantar buku saya "Meraba Indonesia". Buku ini akan terbit pada Juli 2011 oleh penerbit Serambi Ilmu Semesta. Buku ini merupakan catatan personal dari perjalanan ekspedisi Zamrud Khatulistiwa Juni 2009 - Juni 2010. Selamat membaca).

PADA sebuah jendela gerbong yang buram dan sedikit pecah di ujung sudutnya, saya duduk melepaskan pandangan. Di luar, suasana Stasiun Bandung begitu riuh demikian penuh. Para penumpang dan orang-orang yang tidak bisa lepas oleh keseharian di bangunan yang didirikan pada 1870 itu. Tentu saja, wajah bangunan itu sudah berubah sejak pertama kali berdiri. Namun yang tak bisa diubah adalah sebuah fakta bahwa ini bagian penting dari tongak perubahan Kota Bandung. Bahkan sejak Daendels menancapkan tongkatnya di bumi Parahyangan. Dan mengatakan “coba usahakan bila aku datang kembali di tempat ini dibangun sebuah kota,”. 200 tahun kemudian, Kota Bandung menjelma menjadi salahsatu kota terpenting di Indonesia.

Dengan menumpang kereta api ini saya hendak menuju Jember, Jawa Timur. Tapi, tak ada kereta api langsung menuju ke sana. Karena itu, saya naik kereta api Malabar jurusan Bandung–Malang.

Kereta api yang saya tumpangi mulai melaju pelan untuk selanjutnya melewati kota-kota kecil. Ia singgah di setiap stasiun kota yang menawarkan ayam goreng, nasi pecal, dan segelas kopi murah. Kereta api yang saya tumpangi tampak lapuk. Ia melewati setiap meter jarak dengan ringkih, tertatih-tatih.

Dan, saya duduk di salah satu bangku di pojok gerbong sepuh itu. Berdesakan. Padahal tubuh dan pikiran saya masih lelah setelah menempuh perjalanan panjang. Bersama wartawan senior, Farid Gaban, saya baru saja mengelilingi Indonesia dengan mengendarai motor selama hampir setahun. Bayangan perjalanan masih lekat menempel dalam benak dan terus berkelebat seperti potongan adegan film yang terputus-putus.

Tak berapa lama, mata mulai dirampok kantuk. Untuk mengatasinya, saya mengedarkan pandangan ke sekujur gerbong. Menatap gerbong seakan melemparkan imajinasi saya ke masa lalu. Ada semacam romantisme di sana. Di dalam gerbong, saya membayangkan secuil potret kejayaan Jawa pada masa silam. Sebuah masa saat Belanda membangun infrastruktur jalur kereta api di Hindia Belanda, terutama di Jawa.

Tak bisa dimungkiri, kereta api menggerakkan dan mengubah dengan cepat arus lintas kehidupan Jawa. Kereta api mendorong para pedagang dan banyak profesi lain di seluruh penjuru Nusantara untuk berhamburan menuju Jawa. Ada persinggungan lalu lintas budaya, bahasa, ekonomi dan politik dalam kereta api. Namun, di atas semua itu keberadaan kereta api adalah tanda kekokohan kolonialisme Belanda di negeri ini. Kendati mulai menginjakkan kaki pertama kali pada akhir abad 15, Belanda mulai memancangkan tiang kolonialisme secara politis pada abad ke-18. Di sisi lain, Inggris berhasil membangun koloninya di Malaysia dan Singapura, dan menandatangani sejumlah perjanjian penting dengan Belanda yang menguasai Nusantara.

Sejak itu, Belanda mulai menciptakan kawasannya. Belanda juga mengatur perangkat lain berupa kesamaan mata uang, administrasi, hingga pranata hukum yang terpusat. Perubahan keadaan ini membentuk satu model pembangunan ala Jawa. Maka, Jawa menjadi daerah yang terpusat, birokratis, dan kuat secara politis. Tentu tak ada yang salah dengan soal keterpusatan. Namun bila keterpusatan itu menggadaikan daerah lain, apalagi terpencil tentu ini keliru. Dan inilah yang tengah berjalan di Indonesia.

Sayangnya, kekeliruan ini terus berlanjut setelah negeri ini merdeka. Sungguh sayang. Pasalnya, keterpusatan Jawa ini melahirkan ironi­­––untuk tidak menyebutnya sebagai musibah. Jawa yang diwakili Jakarta terlalu pongah untuk menetapkan aturan. Ada banyak peraturan yang jika diterapkan sungguh tidak sesuai dengan kondisi di luar Jakarta. Dan, selama perjalanan ke pulau-pulau terluar dan sejumlah daerah lain di luar Jawa saya melihat ketidaksesuaian itu dengan mata kepala sendiri, dengan gamblang.

“Tetapi Indonesia bukan hanya Jakarta,” kata Iwan Fals. Selain Jawa negara ini masih memiliki tujuh belas ribu pulau lain. Hati bisa ciut jika melihat fakta betapa besarnya luas wilayah republik ini. Luas kepulauan Nusantara ini membentang sejauh 4.000 mil dari timur ke barat. Dan jarak antara utara ke selatan sekitar 1.300 mil. Luas kepulauan ini sama dengan luas Eropa dari ujung barat sampai Asia Tengah. Jumlah itu menandakan kekayaan bangsa ini. Begitu kaya, bukan? Ah, bukankah pernyataan ini klise belaka. Memang. Namun, saya tak bisa menghindarinya. Dengan menghindarinya, justru seperti menutupi kenyataan. Setidaknya, dengan mengungkap terus-menerus, walaupun berakibat kita terlihat sangat cerewet, bahwa kita memang kaya akan membangkitkan semangat kita untuk kembali menengok Indonesia dan terus mencintai negeri ini. Dan, saya, sialnya, jatuh cinta ke Indonesia. Berkali-kali.

Saya yakin, saya tidak sendirian. Masih banyak orang yang memiliki perasaan yang sama. Maka, tentu tak aneh bila ada banyak orang yang berhasrat untuk mengelilingi Indonesia. Mengembara. “Berkelana,” kata Rhoma Irama. Mereka bermimpi dan ingin tahu bagaimana wajah Indonesia yang sebenarnya. Menyusuri perjalanan dari Sabang hingga Merauke. Bahkan, sampai kapan pun keindahan Nusantara akan melekat pada kesadaran orang yang pernah dan punya pengalaman berkeliling Indonesia. Beruntung saya pernah melihat Indonesia dari dekat dan meleburkan khayalan tentangnya.

Hikayat dari Jalanan: Indonesia


Ahmad Yunus | Dok FB
Hampir satu tahun saya dan Farid Gaban melakukan perjalanan mengelilingi Indonesia. Saya tidak pernah menghitung berapa kilometer dihabiskan mengelilingi Indonesia. Sepeda motor tidak dilengkapi speedometer. Bahkan Global Positioning System (GPS) yang dipasang di motor kami ambrol, rusak akibat kelistrikan motor bermasalah.
Kami menamakan perjalanan ini dengan “Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa”. Tapi, ini bukan sekadar perjalanan. Selain berjalan-jalan kami juga berusaha mendokumentasikan kehidupan alam dan manusia di 50 gugus pulau di Nusantara. Dengan naik kapal nelayan hingga kapal milik negara, kami melompat dari satu pulau ke pulau lainnya. Mulai dari Sumatra, Kalimantan, kepulauan Maluku, Papua, Flores hingga ke Jawa lagi. Dan kemudian deretan nama pulau-pulau itu menjadi kamus baru dalam catatan saya.
Pengalaman menyeberang naik kapal laut dan melihat pulau-pulau membawa tantangan tersendiri. Pasalnya, saya bukan anak yang tumbuh dan dekat dengan laut. Saya lahir di kaki gunung Tangkuban Parahu, Bandung. Gambaran laut dalam benak saya selalu menakutkan. Ia hadir melalui kisah-kisah menyeramkan. Laut adalah dunia yang sarat mitos dan kegetiran. Namun, hari ini saya akrab dengan laut. Erat. Bahkan menikmatinya. Air laut yang asin. Bau amis ikan segar. Pasir pantai. Tamparan ombak.
Perkenalan dengan laut membuat saya bisa meraba keranuman taman terumbu karang yang elok; mendengar suara mesin kapal yang merengek; menatap cahaya matahari berpendar di tengah laut; merasakan embusan gelombang dan angin laut di kulit; memicingkan mata melihat matahari terbenam di ujung laut.
Ah, saya jatuh cinta pada laut. Pada gunung dan halimun yang dingin. Dan, pada akhirnya, pada jagat raya yang bergerak dengan rahasianya sendiri. Itulah alasan saya menyukai perjalanan. Berkunjung dari satu lokasi ke lokasi lain. Setiap persinggahan, percakapan, dan renungan dalam perjalanan memperkaya khazanah saya. Mematangkan jiwa.
Dalam perjalanan ini kami membagi tugas. Saya menulis dan mengambil gambar video; Farid lebih banyak memotret dan sesekali menulis. Dalam perjalanan kami selalu singgah di rumah warga, komunitas jurnalis, pasang tenda, tidur di warung pinggir jalan maupun musala. Hasilnya: 10.000 frame foto, setumpuk catatan perjalanan, dan 70 jam materi video!
Saya dan Farid terpaut jarak usia dua puluh tahun. Kami adalah dua manusia yang berasal dari dua generasi berbeda. Begitu pun dengan selera dan aura zaman kami berbeda. Tapi, kami memiliki kesamaan: senang bertualang.
Farid mengawali karir jurnalistiknya dengan bergabung menjadi awak redaksi majalah Tempo, majalah Editor, Harian Republika dan bergabung kembali ke majalah Tempo hingga 2003. Selama karirnya ia pernah meliput perang Bosnia, menyaksikan runtuhnya tembok Berlin pada 1990, melihat pertandingan sepakbola dunia di Amerika hingga melakukan beberapa perjalanan di Eropa. Namun, meliput Indonesia secara dekat? Sepertinya kesempatan itu baru datang sekarang.
***
Terus terang, ini merupakan pengalaman pertama bagi kami berdua. Namun, karena dibesarkan dalam tradisi jurnalisme perjalanan in
Zamrud Khatulistiwa
i menjadi tantangan dan peluang bagi kami. Tidak banyak yang kami coba lakukan, kami hanya melakukan reportase panjang tentang Indonesia dan bertemu dengan orang-orang biasa, tapi luar biasa untuk menceritakan kehidupan dan alam mereka. Dengan demikian, perjalanan ini menggambaran kenyataan teranyar tentang Indonesia. Melihat ruang dan kehidupan Indonesia lain yang jauh dari khayalan Jakarta. Selain itu, kami juga ingin menguji sejauh mana konsep Indonesia itu berjalan. Namun, bukan dari ucapan para pejabat yang cenderung memanipulasi kenyataan, melainkan dari kesaksian, obrolan dan cerita orang-orang biasa yang tinggal di kepulauan.
Kami melewati perjalanan darat di Sumatra seluas 473.606 km²; Kalimantan yang mencapai 539.460 km². Dan perjalanan darat dari Nusa Tenggara Timur hingga ke Jawa lagi. Sisanya, di Sulawesi, kepulauan Maluku, Raja Ampat hingga mencapai Merauke kami naik kapal nelayan, ferry dan kapal Pelni. Jauh? Itu belum seberapa. Entah nekat atau bodoh, sesungguhnya kami benar-benar buta rute perjalanan di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi bahkan hingga menembus Boven Digul di Papua. Kami hanya mengandalkan buku Lonely Planet edisi Indonesia dan peta yang bisa dibeli di toko buku. Buku perjalanan itu ibarat kitab suci bagi para pelancong. Buku itu sering saya baca selama perjalanan. Saking seringnya, kertasnya sampai keriting. Bahkan, beberapa kali basah akibat terkena hujan. Tapi tetap saya pertahankan buku itu, kali saja suatu saat nanti ada kolektor yang berniat membelinya, walaupun saya ragu jika memang benar ada apakah ia waras atau setengah gila. Jika tidak, buku itu tetap bermanfaat; menjadi bantal.
Kalaupun tersesat kami beruntung bertemu orang-orang biasa yang luar biasa. Bertemu, bertukar cerita, dan mendengarkan celotehan mereka, kami merasa tersesat di jalan yang benar. Mereka adalah orang-orang yang terlupakan (atau dilupakan) yang justru mengisi dan memperkaya Nusantara. Inilah catatan cerita mereka itu. Cerita tentang mereka mengalir. Memperkuat. Saling menaut dan menjalin menjadi cerita tentang Indonesia. Ibarat sebuah kain tenun, dari seuntai serat alam menjadi benang. Dan kemudian berpilin menjadi kain. Memberikan kehangatan pada tubuh manusia yang telanjang.
Tak pelak, hikayat perjalanan ini adalah tentang Indonesia. Tempat saya lahir dan tumbuh. Di negeri inilah saya mengisi hari-hari dengan kebahagiaan, kesenangan, juga penolakan yang membuat diri saya terkadang marah dan kecewa.
***
Menulis Indonesia bagaikan mengisahkan sekelumit misteri yang rumit sekaligus menantang. Seperti mengupas sebiji bawang. Lapisan demi lapisan menguak sejarah, namun begitu terkuak mata kita perih karenanya. Tapi, biarlah mata ini perih. Yang terutama adalah saya berusaha mengelupasi lapisan-lapisan Indonesia.
Ketika jari mulai mengetik di atas keyboard, pikiran seperti bermain teka-teki untuk menjawab setiap persoalan yang melilit negeri ini, mulai dari persoalan politik, ekonomi, sosial, lingkungan, budaya, hingga agama. Perjalanan ini memberikan contoh yang nyata bagaimana kerumitan dan kaburnya khayalan tentang Indonesia itu sejak kemunculan sejarah gagasan awal Indonesia, kolonialisme yang pahit, hingga pergulatannya hari ini.
Perjalanan ini mengantarkan saya untuk menyimak cerita perjalanan sebelumnya yang sangat hebat di Nusantara seperti perjalanan epik Alfred Russel Wallace, merasakan adrenalin sosok Che Guevara yang berkeliling Amerika Latin dengan sepeda motornya, dan petualangan Tintin dan anjingnya ke beberapa penjuru dunia. Wallace mencatat keunikan flora dan fauna di kepulauan Nusantara dan melahirkan bibit teori evolusi; sepulang mengelilingi Amerika Latin Che mulai mengobarkan revolusi Kuba; Tintin dan anjingnya mengabarkan keunikan karakter setiap tempat yang mereka kunjungi. Yang menakjubkan dari mereka adalah, mereka mengurai setiap misteri dan melakukan reportase yang menantang.  Dan, semangat ketiga orang itu terasa menyatu ketika saya mulai memacu gas untuk kali pertama. Ada gairah yang selalu bergelora dalam darah.
Penjelajah dan pejuang seperti mereka adalah sosok pribadi yang menarik dan terhormat. Dengan kadar intelektual dan kecintaan masing-masing terhadap perjalanan, mereka turun untuk melihat kenyataan dari dekat. Bersahabat dengan matahari, lintah yang mengisap, peluru yang berdesing, dan bergulat dengan kata-kata yang tercatat dalam buku harian. Mereka menulis gagasan, pergulatan, pemikiran hingga persoalan pribadi. Mereka telah melahirkan inspirasi dan kesadaran dalam meletakkan kebenaran dan menggerakkan perubahan pada sejumput ilmu pengetahuan dan kemanusiaan.
Perjalanan ini juga menarik saya untuk menengok pada serangkaian sejarah pembentukan republik ini. Selama perjalanan ini saya bisa membaca dengan jernih bagaimana kesadaran kolektif itu bisa tumbuh, dengan segala perdebatan, polemik, dan persaingan kekuasaannya. Salah satu buku yang saya baca adalah The Idea of Indonesiakarya Robert Edward Elson. Elson adalah profesor sejarah Asia Tenggara pada School of History, Philosophy, Religion and Classics di University Queensland, Brisbane, Australia.
***
The Idea of Indonesia adalah sebuah riwayat lengkap tentang Indonesia. Buku ini merentang perjalanan sejarah Indonesia sejak awal, tentang orang-orangnya, pemikiran yang mengisi dan memaknainya, dan pergulatannya hingga hari ini. Elson melakukan riset yang telaten disertai wawancara sejumlah tokoh. Buku ini bermula dari pertanyaan: siapa Indonesia? Bagaimana sejarah kelahirannya?
Pada titik ini, khayalan saya terlempar pada beberapa abad silam, abad ketika sejumlah intelektual dari Eropa datang ke kepulauan ini dan mempelajari khasanahnya: sosial, budaya, ekonomi, politik, keragaman flora dan faunanya, agama hingga antropologinya. Siapa nama yang berkulit sawo matang dari ras Polinesia itu? Apa nama untuk kepulauan itu?
Sebelum abad kedua puluh, Indonesia tidak ada. Tak seorang pun tahu nama kawasan kepulauan ini. Orang luar mengenal kepulauan ini dengan beberapa nama, antara lain, “The Eastern Seas (Lautan Timur)”, “The Eastern Islands (Kepulauan Timur)”, dan “Indian Archipelago (Kepulauan Hindia)”. Belanda menamakan kepulauan ini sebagai “Hindia”, “Hindia Timur” atau Insulinde yang berarti “Pulau-pulau Hindia”. Belakangan seiring politik Belanda menguat, nama kepulauan ini dikenal dengan “Hindia (Timur) Belanda” dan sebagian memandangnya sebagai “Tropisch Nederland” atau “Kawasan Tropis Belanda”.
Seorang pengelana dari Inggris pada 1850, George Samuel Windsor Earl, menyebut nama kepulauan ini adalah “Indu-nesians”. Namun, ia merasa nama ini terlalu umum untuk pendekatan etnografis. Dan kemudian istilah yang dia anggap paling khusus adalah “Malayunesians”.
Namun, koleganya, James Richardson Logan lebih memilih “Indonesian”. Ia merasa kata itu lebih tepat dan benar untuk menjelaskan istilah geografis, bukan etnografis. Bahkan, penggunaan nama ini ia gunakan dalam tulisan-tulisannya “Indonesia”, “Indonesians”. Bahkan ia membagi “Indonesia” menjadi empat kawasan geografis terpisah, membentang dari Sumatra sampai Formosa di Taiwan. Sedikit demi sedikit kata “Indonesia” kemudian dipakai oleh para antropolog dan ahli linguistik dari Inggris, Jerman, Prancis maupun Belanda. Gagasan ini muncul dalam sebuah majalah ilmiah tahunan pada 1847 di Singapura. Majalah Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asiaatau JIAEA ini dikelola oleh Logan dan Earl sendiri.
***
Etnograf terkenal dari Jerman, Adolf Bastian kemudian melambungkan penggunaan nama “Indonesia” di kalangan akademisi Eropa. Ia menggunakan kata itu dalam kumpulan tulisannya sebanyak lima jilid Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel pada 1884–1894. Penggunaan nama “Indonesia” merujuk pada pengertian budaya dan tidak dalam pengertian politis.
George Samuel Windsor Earl dan James Richardson Logan adalah tokoh terhormat di Penang. Keduanya meninggal dan dimakamkan di Penang. Pulau kecil milik Malaysia yang terletak di Selat Malaka. Selat yang sangat strategis bagi perkembangan ekonomi dan politik dunia kemudian hari. Dan, saya kira Inggris tahu betul bagaimana perkembangan dunia ke depan. Ketika Inggris memiliki rencana jangka panjang yang jauh lebih solid ketimbang Belanda, mereka tahu persis peranan penting geopolitik bagi perkembangan dunia saat ini.
Tujuan mereka tak lain adalah memupuk kejayaan dan kemakmuran abadi. Strategi ini berlangsung pada saat terjadi persaingan antara Serikat Dagang Hindia Timur Belanda (VOC) dan Serikat Dagang Hindia Timur Inggris (EIC) pada abad ke 17–18. Inggris dan Belanda menukar Bengkulu dengan Singapura. Sebelum itu, ada pertukaran antara Pulau Run di kepulauan Banda dengan Manhattan, New York yang dikuasai Belanda. Francis Light, seorang warga negara Inggris, menyewa Penang dari Sultan Kedah pada 1786. Namun, Inggris tak cukup mendirikan fondasi di pulau kecil itu. Pada 1819 Thomas Raffles mendirikan pelabuhan Singapura.
Sementara itu Belanda membangun pelabuhan di Sabang, Pulau Weh pada 1887. Setelah Inggris mendirikan koloninya di Penang, kejayaan dan kemakmuran tak sebatas pada perdagangan rempah-rempah. Inggris tahu persis bagaimana menguasai perdagangan ini dan mematikan posisi Belanda.
Pada masa selanjutnya, kejayaan tak berakhir pada perdagangan rempah-rempah saja. Melainkan jauh lebih hebat dari sekedar bumbu penyedap.  Di sisi lain, Belanda lebih pragmatis ketimbang Inggris dalam mendirikan koloninya. Perbedaan siasat ini memberikan dampak berbeda terhadap bekas wilayah koloninya.
***
Bagaimana nasib bekas wilayah koloni Belanda dan Inggris itu sekarang? Penang dan Singapura menjadi kota yang sangat maju dengan tingkat pembangunan ekonomi yang cepat. New York menjadi salah satu kota dunia terkuat dan modern, ia menjadi kota yang dikenal tak kenal istirahat.
Sementara Sabang, Pulau Run, dan Bengkulu mengalami nasib yang mengenaskan. Ketiga tempat itu hanya meninggalkan catatan sejarah kelam bagaimana jejak eksploitasi dan kolonialisme berlangsung di kepulauan ini. Tak ada yang lain. Rasanya tak elok  membandingkan kondisi ketiga wilayah bagian Indonesia itu dengan Penang, Singapura maupun New York. Sebuah ironi sejarah yang mengenaskan. Dan begitu malang nasib perkembangannya.
Mata mulai perih, tapi tangan saya mesti terus memegang pisau untuk menguliti “bawang” Indonesia ini, meski satu dua air mata mulai menitik.
Jilid berikutnya, kita merasakan bagaimana perjalanan republik ini menukik jatuh pada titik terendah, sulit menentukan bagaimana mengisi langkah berikutnya, dan tak memberikan harapan baru bagi semua entitas etnik yang menjadi warga negara Indonesia. Ironis? Memang.
Tapi, kita mesti bersyukur. Bukankah dengan bersyukur, Tuhan menambahkan rahmat-Nya kepada kita? Ya, kita mesti bersyukur karena Indonesia kaya dengan cerita. Bahwa berbagai cerita itu diisi dengan romatisme dan konflik, sungguh itu malah memperkaya batin kita. Dengan mengetahui cerita-cerita itu kita bisa memperbaiki kehidupan untuk masa depan, untuk anak-anak dan cucu-cucu kita. Dan, bila ditelaah usaha kita tak akan ada habisnya untuk mengupas, menguliti dan mengurai Indonesia.
***
Saya merasa cerita hebat itu selalu berawal dari sebuah cerita sederhana. Maka dari itu, saya memulainya dengan bertemu orang biasa. Berbicara, melakukan wawancara, menulis dan hidup bersama mereka. Dari perjalanan ini saya masih menemukan harapan. Merekalah harapan itu. Orang-orang kecil itu. Dan, inilah sejatinya Indonesia! Diakui atau tidak, merekalah suara-suara sunyi dari anak bangsanya sendiri.
Untuk menuliskan cerita mereka itulah selama perjalanan kami tidak tidur di hotel. Kalau pun menginap paling mahal cuma Rp. 150.000 per malam. Rata-rata kami memilih tidur di rumah warga, pasang tenda di tepi jalan, menumpang tidur di warung makan, di teras surau, dan musala pinggir jalan. Kami tak pernah khawatir dalam perjalanan ini, walaupun kami membawa peralatan yang cukup mahal. Kami membawa beberapa alat pekerjaan, seperti laptop ukuran kecil, laptop untuk menyunting foto, kamera digital, kamera video dan kaset-kaset video. Sisanya alat dapur lapangan, kantong tidur, tenda, dan peralatan untuk snorkeling. Perangkat ini masuk dalam ransel. Dan sisanya, barang yang tahan banting diikat di atas motor.
[Tulisan kedua dari pembuka buku Meraba Indonesia]
[Dikutip dari laman facebook: Ahmad Yunus | https://www.facebook.com/notes/ahmad-yunus/hikayat-dari-jalanan-indonesia/10150195164996525]

Farid Gaban, Mengenali Hemingway dari Masjid Salman ITB


Farid Gaban dan Putut Widjanarkobersiap-siap untuk menjadi pembicara dalam talkshow "Islam dan Kebangsaan". (Foto: Tristia R.)
Adalah Farid Gaban, jurnalis lepas yang berbagi pengalaman “Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa”-nya pada Sabtu, 6 Juli 2011. Bertempat di Ruang Utama Masjid Salman ITB, “Islam dan Kebangsaan” menjadi tematalkshow pada hari itu.
Tak hanya Farid, Produser Mizan Production Putut Widjanarko pun turut diundang untuk memberikan pemahamannya mengenai perpaduan “Islam dan Kebangsaan”. Usut punya usut, keduanya merupakan alumni unit Salman Komunikasi dan Aspirasi Umat (SKAU), yang konon menjadi cikal bakal unit Aksara kini. SKAU adalah unit literasi yang berfokus pada kegiatan membaca, menulis, dan diskusi.

Seusai acara, saya dipersilakan pihak Salman untuk mewawancarai kedua aktivis gaek kepunyaan Salman ITB ini. Farid dan Putut merupakan dua teman dengan gaya yang berbeda. Putut bagai kaum intelektualis rapi, dengan kemeja pola kotak berlengan pendek yang dikenakannya. Sedangkan Farid adalah rockstar berbalut t-shirt hitam bertuliskan “Mencintai Indonesia Apa Adanya”. Kala itu, Farid dan Putut sedang menikmati tajil berbuka puasa di Rumah Alumni Salman. Namun, mereka berdua tidak berkeberatan untuk diwawancarai. Berikut rekap wawancara antara saya, Farid Gaban, dan Putut Widjanarko.

Assalamualaikum. Bisa ceritakan bagaimana perjalanan Anda berdua sehingga  cukup aktif berkegiatan di Salman?
Putut (P): Dapat dibilang, saya datang dari keluarga abangan. Tapi sejak SMA sudah terlibat kegiatan masjid. Dari SMA saya berlangganan Panji Masyarakat dan majalah dari Salman ITB. Jadi saya tertarik dengan Masjid Salman ITB melalui media-media yang mereka hasilkan. Waktu kuliah, saya gabung di Salman ITB. Bahkan dapat dikatakan, saya lebih banyak aktif di sini (Salman.red). Banyak orang yang bilang saya kuliah di Salman ITB, esktrakurikuler saya di Ganesha 10. (tertawa)
Farid (F):  Saya beda dengan Putut, saya santri (tertawa). Saya sekolah di SMA 1 Yogya. Sebelum gabung di Salman, saya selalu minder jadi orang Islam. Karena organisasi, sekolah, dan sebagainya bukan dari lembaga Islam di kota saya tersebut. Sedangkan Masjid Salman ITB itu inklusif, terbuka,  dan pada saat itu menimbulkan kebanggaan bagi orang Islam.  Tidak ada suruhan orang harus begini, harus begitu, melainkan dengan kesadaran sendiri. Pergaulan tidak begitu dibatasi, malah Salman ITB menjadi hebat karena mereka membaur. Bahkan, saya belajar sastra klasik malah di sini, di perpustakaan Salman ITB. Saya tahu Hemingway dari sini.

Apa yang membuat Anda berdua tertarik mengikuti unit literasi SKAU?
F: Dulu saya tidak suka menulis. Tetapi saya suka hal-hal yang berhubungan dengan desain. Ketika bergabung dengan kepanitiaan di Salman ITB, saya selalu menjadi staf publikasi atau penerbitan. Saya suka fotografi.
P: Saya beruntung, karena orangtua memberi saya banyak buku sedari kecil. Ketika membaca di SKAU, hobi membaca dan menulis saya pun disalurkan. Saya juga suka kajiannya.
Apa yang membuat Anda menyenangi pekerjaan yang Anda kini geluti?
F: Saya senang jurnalisme, karena bagi saya, jurnalisme dapat digunakan sebagai sarana mencari uang dan menyuarakan aspirasi sosial.
P: Ketika saya lulus, saya ditarik ke Penerbit Mizan karena mereka percaya kepada kapasitas pemikiran dan manajemen saya. Saya tidak langsung bekerja di produksi film, tetapi ke penerbitan dulu. Dalam memproduksi film, saya bisa menyampaikan pengetahuan yang telah saya dapatkan. Tentu, juga untuk mendapatkan penghidupan yang layak.

Anda berdua datang dari jurusan teknik. Namun kini, baik Mas Farid maupun Mas Putut tidak sama sekali berkecimpung di bidang teknik. Adakah semacam penyesalan yang datang dari pribadi?
P: Oh tidak, kalau menurut saya, itu jalan hidup.
F: Tidak. Saya bangga menjadi anak ITB. Semua pengalaman yang dialami membentuk keseluruhan hidup kita. Tetapi memang jurusan sosial dianggap lebih rendah, sehingga memang kualitasnya menjadi lebih rendah. Itu membuat Indonesia roboh, karena jurusan-jurusan sosial tidak diurus dengan baik. Padahal dampaknya luas sekali, karena jurusan sosial akan mencetak ahli hukum, ekonom, bahkan politisi yang baik. Sosial dan sains harus saling melengkapi.

Ahmad Yunus dalam video Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa sempat berkata, “Untuk membenahi Indonesia, harus dari dasar permasalahan terlebih dahulu.” Menurut Anda berdua, dasar apa yang harus diperbaiki?
F: Cara berpikir. Indonesia itu kan negara maritim. Selama ini kita dicekoki oleh mindset daratan, pemerintah kita hanya fokus untuk membangun infrastruktur di darat. Coba tekankan pendidikan kelautan. Yang kedua, cara berpikir politisi. Seolah menjadi politisi itu dilayani, bukan melayani.
P: Kalau yang  saya rasakan sekarang, kita ini kehilangan sense of purpose. Jadi, pembangunan Indonesia tidak menuju ke suatu tempat. Indonesia ini negara besar, punya potensi besar, tetapi pembangunannya tidak merata. Kepemimpinan yang ideal adalah kepemimpinan yang  berani mengambil tindakan, keputusan, serta ada indikator pencapaian. Sedangkan kita kan mandeg. Kita juga terjangkit negativisme. Indonesia serba dikutuk kejelekannya. Bangsa kita koruptor, tidak pernah menang, semuanya serba negatif. Daripada mengutuk kegelapan, mengapa kita tidak menyalakan lilin? ***