![]() |
| Farid Gaban dan Putut Widjanarkobersiap-siap untuk menjadi pembicara dalam talkshow "Islam dan Kebangsaan". (Foto: Tristia R.) |
Tak hanya Farid, Produser Mizan Production Putut Widjanarko pun turut diundang untuk memberikan pemahamannya mengenai perpaduan “Islam dan Kebangsaan”. Usut punya usut, keduanya merupakan alumni unit Salman Komunikasi dan Aspirasi Umat (SKAU), yang konon menjadi cikal bakal unit Aksara kini. SKAU adalah unit literasi yang berfokus pada kegiatan membaca, menulis, dan diskusi.
Seusai acara, saya dipersilakan pihak Salman untuk mewawancarai kedua aktivis gaek kepunyaan Salman ITB ini. Farid dan Putut merupakan dua teman dengan gaya yang berbeda. Putut bagai kaum intelektualis rapi, dengan kemeja pola kotak berlengan pendek yang dikenakannya. Sedangkan Farid adalah rockstar berbalut t-shirt hitam bertuliskan “Mencintai Indonesia Apa Adanya”. Kala itu, Farid dan Putut sedang menikmati tajil berbuka puasa di Rumah Alumni Salman. Namun, mereka berdua tidak berkeberatan untuk diwawancarai. Berikut rekap wawancara antara saya, Farid Gaban, dan Putut Widjanarko.
Assalamualaikum. Bisa ceritakan bagaimana perjalanan Anda berdua sehingga cukup aktif berkegiatan di Salman?
Putut (P): Dapat dibilang, saya datang dari keluarga abangan. Tapi sejak SMA sudah terlibat kegiatan masjid. Dari SMA saya berlangganan Panji Masyarakat dan majalah dari Salman ITB. Jadi saya tertarik dengan Masjid Salman ITB melalui media-media yang mereka hasilkan. Waktu kuliah, saya gabung di Salman ITB. Bahkan dapat dikatakan, saya lebih banyak aktif di sini (Salman.red). Banyak orang yang bilang saya kuliah di Salman ITB, esktrakurikuler saya di Ganesha 10. (tertawa)
Farid (F): Saya beda dengan Putut, saya santri (tertawa). Saya sekolah di SMA 1 Yogya. Sebelum gabung di Salman, saya selalu minder jadi orang Islam. Karena organisasi, sekolah, dan sebagainya bukan dari lembaga Islam di kota saya tersebut. Sedangkan Masjid Salman ITB itu inklusif, terbuka, dan pada saat itu menimbulkan kebanggaan bagi orang Islam. Tidak ada suruhan orang harus begini, harus begitu, melainkan dengan kesadaran sendiri. Pergaulan tidak begitu dibatasi, malah Salman ITB menjadi hebat karena mereka membaur. Bahkan, saya belajar sastra klasik malah di sini, di perpustakaan Salman ITB. Saya tahu Hemingway dari sini.
Apa yang membuat Anda berdua tertarik mengikuti unit literasi SKAU?
F: Dulu saya tidak suka menulis. Tetapi saya suka hal-hal yang berhubungan dengan desain. Ketika bergabung dengan kepanitiaan di Salman ITB, saya selalu menjadi staf publikasi atau penerbitan. Saya suka fotografi.
P: Saya beruntung, karena orangtua memberi saya banyak buku sedari kecil. Ketika membaca di SKAU, hobi membaca dan menulis saya pun disalurkan. Saya juga suka kajiannya.
Apa yang membuat Anda menyenangi pekerjaan yang Anda kini geluti?
F: Saya senang jurnalisme, karena bagi saya, jurnalisme dapat digunakan sebagai sarana mencari uang dan menyuarakan aspirasi sosial.
P: Ketika saya lulus, saya ditarik ke Penerbit Mizan karena mereka percaya kepada kapasitas pemikiran dan manajemen saya. Saya tidak langsung bekerja di produksi film, tetapi ke penerbitan dulu. Dalam memproduksi film, saya bisa menyampaikan pengetahuan yang telah saya dapatkan. Tentu, juga untuk mendapatkan penghidupan yang layak.
Anda berdua datang dari jurusan teknik. Namun kini, baik Mas Farid maupun Mas Putut tidak sama sekali berkecimpung di bidang teknik. Adakah semacam penyesalan yang datang dari pribadi?
P: Oh tidak, kalau menurut saya, itu jalan hidup.
F: Tidak. Saya bangga menjadi anak ITB. Semua pengalaman yang dialami membentuk keseluruhan hidup kita. Tetapi memang jurusan sosial dianggap lebih rendah, sehingga memang kualitasnya menjadi lebih rendah. Itu membuat Indonesia roboh, karena jurusan-jurusan sosial tidak diurus dengan baik. Padahal dampaknya luas sekali, karena jurusan sosial akan mencetak ahli hukum, ekonom, bahkan politisi yang baik. Sosial dan sains harus saling melengkapi.
Ahmad Yunus dalam video Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa sempat berkata, “Untuk membenahi Indonesia, harus dari dasar permasalahan terlebih dahulu.” Menurut Anda berdua, dasar apa yang harus diperbaiki?
F: Cara berpikir. Indonesia itu kan negara maritim. Selama ini kita dicekoki oleh mindset daratan, pemerintah kita hanya fokus untuk membangun infrastruktur di darat. Coba tekankan pendidikan kelautan. Yang kedua, cara berpikir politisi. Seolah menjadi politisi itu dilayani, bukan melayani.
P: Kalau yang saya rasakan sekarang, kita ini kehilangan sense of purpose. Jadi, pembangunan Indonesia tidak menuju ke suatu tempat. Indonesia ini negara besar, punya potensi besar, tetapi pembangunannya tidak merata. Kepemimpinan yang ideal adalah kepemimpinan yang berani mengambil tindakan, keputusan, serta ada indikator pencapaian. Sedangkan kita kan mandeg. Kita juga terjangkit negativisme. Indonesia serba dikutuk kejelekannya. Bangsa kita koruptor, tidak pernah menang, semuanya serba negatif. Daripada mengutuk kegelapan, mengapa kita tidak menyalakan lilin? ***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar