“Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat” (Soe Hok Gie)
Ini adalah tulisan yang panjang. Entah review atau bukan, yang pasti banyak catatan penting yang harus saya tuliskan. Dan saya memerlukan waktu beberapa hari untuk menulis. Karena saya tidak mau ada yang tertinggal.
Tak tau mengapa, ketika ada undangan pemutaran film “Meraba Indonesia” di Galeri Antara, saya begitu tergerak untuk datang. Jarak yang tidak dekat, dari kantor di bilangan Duren Sawit menuju Pasar Baru tidak menghalangi rasa penasaran saya. Alhasil, meskipun sedikit telat, saya berhasil mengikuti acara sampai dengan selesai diskusi dari oknum aktor di film ini.
Menonton filmnya, intinya cuma satu, this is “The Indonesia Motorcycle’s Diary”. Hehehe.. Dan membaca bukunya, kalian akan berpikir akan sisi lain Indonesia. Tapi realita. Bisa lebih membuka pikiran bahwa Indonesia itu bukan Jakarta. Dan menjadikan berita yang disajikan di televisi bisa tidak berarti dalam kehidupan masayarakat Pulau Sebatik atau suku Banggai. Dan kadang media tidak memberikan kontribusi apa-apa bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Bahkan bisa memperkeruh suasana. Seperti yang terjadi pada konflik Poso dan Ambon.
Bagi saya, tulisan Yunus seperti Lupus. Kok begitu? Ya karena menggelitik. Seperti membaca Pram. Cukup banyak sejarah yang dicatatnya. Juga bagaikan ensiklopedia kecil keanekaragaman hayati Indonesia. Dan pasti keadaan sesungguhnya Indonesia yang bisa membuat seorang saya berpikir lebih terbuka mengapa mereka di perbatasan lebih memilih merdeka. Atau mungkin sependapat dengan penulis untuk berhenti di satu titik timur Indonesia. Di usia senja mungkin.
Ya. Ahmad Yunus, seorang jurnalis lepas, bersama Farid Gaban, yang lebih senior telah melakukan ekspedisi keliling Indonesia selama 10 bulan. Dari Sabang sampai Merauke. Naik motor.. ngeng ngeng..
Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Ekspedisi 80 pulau, 10.000 frame foto, dan 70 jam video. Mereka mengakui (bahkan saya) “Dari Sabang Sampai Merauke” bahwa adalah hanya sebatas salah satu lagu wajib. Tapi mungkin kalian lebih memilih dan mengidamkan untuk keluar negeri. Singapura dan Malaysia misalnya. Orang gengsi kalau belum bernah keluar negeri. Bah! Kalian salah. Orang yang pernah keliling Indonesia uangnya lebih banyak dibanding yang pernah ke dua negara tetangga itu. Untuk bisa keliling Indonesia timur saja memerlukan biaya yang sama ketika kamu berkeliling Eropa. Plus keuntungan tidak diperlukan mengurus visa. Pada bagian Hikayat Dari Jalanan: Indonesia dijelaskan luas kepulauan Nusantara ini membentang sejauh 4.000 mil dari Sabang sampai Merauke, 1.300 mil dari Miangas sampai Pulau Rote. Dan luas itu sama dengan ujung barat Eropa sampai Asia Tengah. Mangap ga tuh mulut lo? Gue aja sampe tahan napas.
Ketika duo jurnalis ini memutuskan menulis tentang pengalaman mereka di Selat Malaka, pun begitu dengan saya. Dan ini penting. Saat membaca tulisan ini, saya jadi marah sendiri. Mungkin juga dengan kalian.
Dalam perjalanan di atas kapal pengangkut sayur dan buah, dari Dumai menuju Batam, mengalami empat kali patroli. Pertama dari marinir. Umur sekitar 25 tetapi sok 45. Setor tiga lembar 50 ribuan + tambahan satu lembar lagi. Tidak butuh waktu lama, dipatroli lagi oleh angkatan laut. Setor 150 ribu. Ketika pelabuhan Singapura terlihat, setor 200 ribu untuk kapal polisi laut. Sampai di pelabuhan Batam, setor lagi 150 ribu buat boat polisi laut. Kalau diabaikan? Ya babak belur. Teman, itulah perompak dari Selat Malaka. Perompak yang saya kira adalah penduduk pengangguran yang tidak berpendidikan. Tetapi ternyata saya salah. Mereka berseragam, yang seharusnya menjaga kapal-kapal sayur, buah, dan ikan nelayan. Kayaknya burung garuda ga pernah makan anaknya sendiri deh. Indonesia.
Membaca buku ini wajib hukumnya membuka peta Indonesia. Untuk melihat dimana letak tempat yang disebutkan, apa yang ada dan terjadi di sana. Konflik sosial, budaya, dan tentu saja politik. Terlebih ketika berada di Pulau Sebatik. Jangan sekali-kali berbicara nasionalisme dengan masyarakat Sebatik. Ketika nasionalisme di Jakarta mengelu-elukan “Ganyang Malaysia” sehingga mulut penuh buih liur, abstrak, tetapi “Di sini tidak ada perang. Saya tidak takut” begitu kata Samir, seorang nelayan Sebatik. Bagi mereka yang terpenting adalah bagaimana mereka dapat bertahan hidup. Walau lebih memlilih pergi ke Tawau (Karisidenanan Malaysia) ketimbang harus ke Tarakan atau Nunukan karena memerlukan waktu dan dana tiga kali lipat, tetapi mereka masih setia dengan menjadi warga negara Indonesia. Kurang nasionalisme apa cui? Saya paham, mengapa muncul GAM atau OPM.
Kalian tau Pulau Miangas? Hayoo..buka petanya duluuu..:) saya bantu dengan jargon. “Dari Sabang sampai Merauke. Dari Miangas sampai Pulau Rote” atau “Kami selalu dengan kalian di sana. Karena itu, teguhlah dalam mejaga kedaulatan NKRI.” Begitu modal kampanye 2009 lalu. Tetapi sampai detik ini beliau tidak pernah datang. Pulau ini menjadi obyek penderita isu datangnya teroris dari Filipina. Ya, buat saya sih wajib hukumnya ada pemeriksaan yang mungkin lebih ketat di wilayah perbatasan. Tapi ga usah lebay. Ga usah sok menjaga kedaulatan. Tapi warganya tidak menikmati listrik. Miskin. Hanya modal stereotip yang berjenggot, asal tuduh teroris. Ditangkap. Setelah disodorin kartu pers baru nyaho. Kalo gue jadi warga Miangas mah gue beli bendera Filipina trus gue tancepin aje tuh di depan rumah atau alun-alun kota (kalau ada). Pemerintah hanya memberikan jargon tetapi menuntut warga perbatasan mencintai Indonesia.
Masih ingin membaca tulisan saya? Kalau tidak, ya silakan berhenti. Kalau masih, mungkin kalian bisa nyalakan rokok.
Di awal cerita Yunus tentang Flores. Saya melihat toleransi kecil tentang pengalaman pribadi penulis ketika bertugas di Flores Pos. Saya setuju ketika ia menulis; Saya semakin mengerti bagaimana seharusnya kita meletakkan agama dalam kehidupan. Karena itu Pancasila lahir di sini. Tetapi di balik kehidupan harmonis umat beragama di pulau yang memang Katholik itu, ternyata ada sejarah kelam yang tidak pernah tercatat. Adalah Leonardo Lidi, pencipta lagu “Wohe Hoer” (Ratapan). 1965, ia masih 17 tahun. Tetapi sudah melihat 33 orang dikumpulkan di lapangan sepakbola. Tangan diikat lalu kepala dipenggal sekali seperti ayam oleh algojo yang ditunjuk dan dilatih membantai oleh tentara. Tidak ada alasan jelas. Hanya karena wacana petani adalah PKI, mereka mati. Atau beragama Katholik, karena sempat merebak PKI adalah Partai Katholik Indonesia. Dan ketika ada algojo yang menangis, atau korbannya lepas, algojo tersebut akan menjadi gantinya. Plus empat saudaranya. Lalu mayat-mayat tanpa dosa tersebut dibuang ke laut atau dimasukan dalam satu lubang. Dan kejadian bengis itu tidak hanya terjadi di kampung perempuan 67 tahun tersebut, genosida yang mengatasnamakan PKI itu cepat menyebar ke kampug-kampung lain. Dan angkanya mencapai 2000 korban jiwa. 1965 juga ada 12.000 orang dibuang ke Pulau Buru tanpa pengadilan. Tidak tau apa alasannya. “Saya minta jangan terulang lagi kasus 1965 itu di negara tercinta Indonesia. Mungkin sampai akhirat pertanyaan ini selalu ada. Ini rahasia negara atau pelanggaran HAM?”, kata Bapak A, seoarang algojo yang harus mengikat kakaknya sendiri. Dan kalian tau, hanya Gus Dur, presiden Indonesia yang meminta maaf atas peristiwa ini.
Sejarah kelam di Maumere ini mengingatkan penulis dan kita semua ketika belanda mengasingkan Bung Karno ke Ende. Sekitar tahun 1933. Di dalam keterasingan, di bawah pohon sukun, beliau duduk mengahadap ke laut. Membayangkan kenanekaragaman suku, ras, agama, dan budaya. Bung Karno banyak beriskusi dengan pastor-pastor Belanda maupun Jerman. Dan lahirlah Pancasila. Tetapi di kampong halaman Pancasila ini pernah terjadi peristiwa yang tidak berketuhanan, berkemanusiaan, dan berkeadilan. Mungkin hanya sepenggal lirih suara Leonardo Lidi melantunkan lagunya:
Kepada siapa kami mengadu
Hanya ada satu jalan, kepada pastor dan kepada Tuhan.
Meraba Indonesia, membukakan mata dan hati siapa saja yang menonton film dan membaca bukunya. Banyak ironi. Kekayaan alam Indonesia ini hanya dinikmati para penguasa. Bagaimana bebasnya mereka mengubah hutan menjadi perkebunan kelapa sawit hanya untuk tebalnya kantong semata. Mereka tidak berpikir bahwa kerusakan ekosistem Kepulauan Mentawai bahkan sungai Kapuas bias digunakan bermain sepakbola dikala musim kemarau. So, saya tidak bangga dengan kelapa sawit. Kalian juga dapat meraba sistem transportasi laut khususnya Indonesia timur. Atau masyarakat adat yang semakin terpinggirkan.
“Jika negara tidak mengakui masyarakat adat, jangan heran bila ada masyarakat yang tidak mengakui keberadaan negara.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar